Akunberita.id. Kedua bendera itu berkibar. Dan di atas untanya Nabi duduk dengan kepala tertunduk. “Fasabbih bihamdi Rabbika wastaghfirhu..” Matanya menitikkan bening yang syahdu. Allah memenangkannya hari ini. Dan kedua bendera itu berkibar.
Di salah satu sayap ada Sa’d ibn ‘Ubadah, membusungkan dada dengan penuh kebanggaan. Tatapan matanya tajam berkilat.
Hari ini dengan keislamannya, ia merasa mulia di hadapan Makkah yang tiba-tiba terasa kecil dan takluk pada wadya Madinah yang dipimpinnya.
“Hari ini adalah hari menangnya kebenaran dan hancurnya kebathilan”, katanya. Bendera yang dihela tangan kanannya mengembang dan gagah. Bendera yang berdarah-darah melindungi risalah, membela persaudaraan, dan kini mengantarnya pada sebuah kemenangan; bendera Anshar.
Pada sayap yang lain, Az Zubair ibn Al ‘Awwam duduk khidmat di atas kudanya.
Berjuta rasa berkecamuk di dadanya. Pada Makkah, kota dengan selaksa kenangan baginya.
Bayangan kanak-kanaknya penuh tawa berselebat dengan bayangan darah dan air mata saat ia dan sejawatnya menegakkan Islam pertama kali, di sana, di titik kini sedang ditatapnya dengan berkaca-kaca, di dekat Ka’bah yaang mulia.
Bendera yang dipegangnya meliuk-liuk rindu, bergetar oleh angin nostalgia yang tak terkatakan. Bendera itu, bendera yang menyertai Nabi sejak mula dia didustakan kaumnya, bendera yang terusir dari yang dicintainya, bendera Muhajirin
Dua bendera itu, MUHAJIRIN dan ANSHAR
Hari-hari di Makkah adalah hari-hari ujian bagi para calon Muhajirin.
Setiap kabilah berlomba untuk menyiksa dan mengembalikan anggota kabilah dan budak mereka kepada penyembahan Lataa dan ‘Uzza.
Ada banyak cerita nestapa yang menggidikkan bulu roma. Tentang Bilal, keluarga Yassir, Sumayyah, dan ‘Ammar anaknya. Saat Rasul hanya bisa berkata dengan hati pedih melihat mereka, “Ishbir Yaa Aala Yassir Bersabar wahai keluarga Yassir, sesungguhnya istana kembali kalian surga yang di bawahnya sungai mengalir..”
Juga tentang Khabbab, pandai besi yang dipanggang di atas bara dan lelehan besi buatannya sendi sampai keduanya padam oleh cairan tubuhnya, luar biasa! Bara dan besi membara itu padam karena tetesan cairan tubuhnya yang melepuh terbakar.
Tak hanya orang lemah yang mendapatkan ujian seperti ini.
Mush’ab ibn ‘Umair, pemuda paling tampan, wangi dan halus kulitnya, kemilau rambutnya, serta paling modis pakaiannya di masa jahiliah, diboikot oleh ibu yang sebelumnya sangat menyayanginya.
Syaikh Shafiyyurrahman dalam Ar Rahiqul Makhtum-nya menggambarkan akibat boikot ini.
“Kulit Mush’ab mengelupas seperti ular yang berganti kulit “. Keadaan ini dibawa Mush’ab dalam hijrahnya, sampai suatu hari di Masjid Nabawi, Rasulullah menangis mengenang keadaannya.
Di kalangan orang terpandang, Abu Jahl akan menjadi orang pertama yang menakut-nakuti, menjanjikan uang dan kedudukan kepada mereka yang masuk Islam agar kembali murtad. Tapi pembentukan jiwa-jiwa keimanan belum berakhir di sini.
Semua akan merasai menjadi faqir dan terusir. Bahkan meski sebelumnya ia orang kaya yang sangat pemurah seperti Abu Bakar yang membeli dan memerdekakan semua budak yang masuk Islam.
Semua akan merasai menjadi faqir dan terusir, ketika mereka harus berhijrah meninggalkan segala milik dan kecintaan.
Hijrah adalah pengorbanan yang begitu mengiris perasaan. Ini adalah perjalanan yang serba mengambang. Tanpa harapan, tak jelas kesudahan.
Yang lemah dan terbiasa menderita tak tahu duka lara apa lagi yang akan mereka terima, apatah lagi yang biasa berkecukupan. Keluarga, rumah yang nyaman, tempat usaha yang prospektif, semua harus ditinggalkan untuk mengejar ketidakjelasan. Apalagi Madinah bukan tempat yang menjanjikan.
Shuhaib ibn Sinan, imigran Romawi yang gemilang membangun usahanya di Makkah harus meninggalkan sukses yang ia bangun dari nol itu.
Hijrah juga menyisipkan kisah keberanian tentang Umar, yang berangkat dengan kata pamit berupa tantangan. la tidak ingin seperti orang lain yang berangkat sembunyi-sembunyi.
Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, ia berkata di hadapan pemuka-pemuka Quraisy :
“Saksikanlah oleh kalian bahwa Ibnul Khaththab akan berhijrah. Siapa yang ingin isterinya menjadi janda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya meratapi kematiannya, silahkan ia menemuiku sendiri di balik bukit ini!”
Di balik ketegaran mereka, Abu Bakar dan Bilal tetap saja shock ketika tiba di Madinah. Demam tinggi membuat mereka merintih kesakitan. Rindu rumah, rindu tanah, tetap saja menjadi penyakit yang manusiawi.
Ketika keadaan itu disampaikan kepada Rasulullah, beliau pun berdoa:
“Ya Allah, buatlah kami mencintai Madinah ini seperti cinta kami pada Makkah atau lebih banyak lagi. Sebarkanlah kesehatan di Madinah berkahilah ukuran dan timbangannya, singkirkan sakit demamnya, dan sisakanlah air padanya” (HR Bukhari 1/588-589)
Tidak ada golongan manusia yang begitu mudah memberikan pertolongan sepenuh kemampuan seperti orang-orang Anshar
Sebelumnya, mereka sedikitpun tidak mengenal orang-orang yang mereka tolong. Yang mereka tahu hanyalah bahwa mereka adalah sesama muslim.
Saudara macam apa ini, yang bersedia membagi dua semua miliknya.
Dari kebun, toko, rumah, budak, bahkan jika isterinya disuka ia akan ceraikan segera dan menikahkannya dengan sang saudara.
Itsar , mengutamakan saudara atas keperluannya sendiri, menjadi puncak dari persaudaraan yang telah dengan cemerlang diukirkan orang-orang Anshar dalam piagam keislaman mereka.
Benarlah Rasulullah, “Di dalam rumah orang-orang Anshar selalu ada kebaikan !”
Dengarkan Sa’ad bin Mu’adz berbicara atas nama Anshar menjelang hari Badar.
Ini saat mereka akan menghadapi perang yang sebenarnya tidak tercantum dalam klausul bai’at janji setia mereka kepada Rasulullah.
“Kami sudah beriman kepada engkau.”
Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran.”
“Kami sudah berbaiat untuk mendengar dan taat, baik dalam kondisi malas ataupun bersemangat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki “.
“Sambunglah tali siapa pun yang kau kehendaki, putuslah siapapun yang kau kehendaki.”
“Ambillah dari harta kami menurut kehendak engkau, berikan kepada kami menurut kehendak engkau.”
“Apa pun yang kau ambil dari kami adalah lebih kami sukai daripada yang kau tinggalkan untuk kami.”
“Apa pun yang kau perintahkan, urusan kami hanyalah mengikuti perintahmu.”
“Demi Allah, jika engkau maju hingga mencapai dasar yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau.”
“Demi Allah, jika engkau terhalang oleh lautan, lalu engkau terjun ke lautan itu, tentu kami akan terjun bersamamu.”
“Tak seorang pun di antara kami akan mundur.”
“Sesungguhnya kami dikenal sebagai orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran.”
“Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang kami apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dalam barakah Allah!”.
Anshar memang penolong sejati. Keistiqamahan menjaga keberlangsungan pertolongan yang mereka berikan menjadi indikasi jauhnya mujamalah (basa basi) dari visi dan aksi mereka.
Banyak orang yang bisa menolong, tapi jarang yang bisa bertahan dalam posisinya sebagai penolong untuk waktu yang begitu lama sebagaimana telah dilakukan orang-orang Anshar.
