Kembali Pulih

  • Bagikan

Di ruangan kelas yang remang, semua orang berlalu lalang kesana kemari. Mereka sibuk mengerjakan pekerjaan mereka dengan cepat, karena waktu tak akan menunggu mereka. Termasuk aku yang turut membantu.

Saat ini kami sedang menyusun konsumsi untuk siswa dan siswi dalam acara keagamaan di sekolah. Semuanya berjalan dengan baik sampai akhirnya,

“Leniva, kamu dipanggil sama Bang Aksa tuh di luar.”

Bang Aksa? mungkin sudah sewajarnya seorang ketua OSIS memanggil anggotanya, namun mengapa di saat hectic seperti ini.

Aku pun mulai berjalan keluar kelas dan langsung mendapati Bang Aksa di balik pintu bersama Tama, seorang anggota OSIS lainnya. Tetapi, ada yang aneh dengan tatapan mereka, seperti tatapan cemas namun juga terlihat kebingungan.

“Niva, kamu udah dijemput sama keluarga, menyuruh pulang ayo cepat bereskan barang bawaanmu. Dan biarkan yang lain menyelesaikan tugas itu.” Ucap Bang Aksa dengan tergesa, yang membuatku semakin curiga. Aku langsung merampas tasku dan pergi mengikutinya. Firasat ku terasa tidak enak, dan hal itu semakin bertambah saat aku melihat raut wajah guru BK yang aneh, mirip seperti raut wajah Tama. mereka sedang bersama Paman Andy, Adik Ibuku. Paman Andy pun langsung membawaku pergi.

Hening, tak ada sepatah kata pun di atas motor itu. Aku belum berani bertanya kepada Paman Andy, takut dugaanku benar. Dan tiba tiba, paman Andy pun mulai berbicara,

“Kak, papa udah gaada kak. “

dan sedari tadi, itulah hal tak ingin ku dengar.

                                                                        ***

Suasana yang suram, hanya suara rintihan dan tangisan yang terdengar. semua orang ikut berduka atas kepergiannya. Duniaku hancur, tetapi wanita yang berada di sebelahku saat ini pasti lebih hancur. Penampilannya terlihat kacau dengan wajahnya yang pucat. Mama sudah bersusah payah merawat Papa yang sakit selama satu bulan penuh, Semua ia usahakan. Dan ini adalah akhir yang ia capai. Mama terus memelukku sedari tadi.

Setiap aku menatap tubuh Papa yang terbaring, hati ku merintih, aku mulai menangis lagi. Ya Tuhan, dari banyaknya orang mengapa engkau mengambil Papa dariku, aku belum siap. Aku bersyukur, Papa sudah tidak sakit lagi, tapi aku masih butuh Papa Ya Tuhan.

Aku berbaring memeluk jenazah Papa, tubuh yang tidak bisa lagi ku peluk besok. Pa, ini saat terberat dalam hidupku, setidaknya beri aku pelukanmu sekali lagi. Karena hanya pelukanmu yang memberi rasa nyaman dan tenang.

Tiba-tiba seseorang mengelus pelan pundakku, aku pun bangkit untuk duduk melihat wajah orang itu. seorang anak laki laki dengan tatapan yang hangat, itu Keenan. Melihat tatapannya saja sudah mulai membuat hatiku teduh.

“Yang kuat yaa, Om Dirga udah tenang disana, kamu pasti bisa melewati ini semua.”

“gaa bisaa nan, ini berat.” ucapku dengan terisak. Keenan mengerti, dan terus menepuk pundakku.

Dari jauh, aku melihat teman teman sekolah yang mulai berdatangan. Mataku langsung tertuju kepada satu orang, yang sedang berlari ke arahku. Nara, teman yang sudah   4 tahun aku kenal. ia langsung memelukku dengan erat, aku pun menumpahkan tangisanku di pundaknya. “Aku hancur banget Ra, aku ga sanggup nanti kalau gaada Papa besok. aku gabisa ikhlas Ra,” rengekan ku di pelukannya, mungkin hanya Nara yang paling mengerti sehancur apa aku saat ini. Nara hanya mendengar dan terus memeluk ku dengan hangat.

“Semoga Papa di tempatkan di sisi terbaik Tuhan vaa.” ucap suara Nara yang lembut. Teman- teman yang lain juga mulai menyalamiku, mereka juga turut berbela sungkawa atas kepergian Papa.

Seluruh proses pemakaman papa telah selesai. Kemudian, aku pun kembali ke kamar, berbaring menatap langit-langit kamar. aku masih belum percaya papa benar-benar sudah pergi. Kesedihan yang tak akan mereda, yang akan terus muncul saat memikirkan tentangnya. sekarang hanya tersisa kenangan tentang dirinya.

Terdengar suara ponsel yang berdering. Teringat aku bahkan tak ada memegang ponsel seharian ini. Tertulis nama Keenan di layar, aku pun mengangkat telfon itu.

“Selamat malam mbak Leniva.” Niva tersenyum mendengar sapaan yang tidak biasa itu.

“Iyaa, selamat malam juga mas Keenan, ada apa yaa mas?” Jawab ku meladeninya.

“Hahaa diladeni lagi, aku bercanda. nah by the way, aku punya lagu bagus untukmu Nivaa.”

“Wahh tiba tiba bgt??!! lagu apa emangnya nan?” 

“Jadi, aku mewakili Om Dirga menyanyikan lagu ini.” Keenan menjelaskan.

“Ayo, dipersilahkan.”

Keenan pun memainkan gitarnya, dan mulai bernyanyi.

“Bila suatu saat kau dengarkan lagu ini

Dan aku sudah tak ada lagi di sampingmu

Kau akan mengerti

Mengapa begitu menyebalkannya ku di matamu

Kelak kau ‘kan jadi orang tua seperti aku

Yang ingin anakmu bahagia dengan hidupnya

Bila bentakan kecilku patahkan hatimu

Lebih keras dari itu dunia ‘kan menghakimimu

Kubentuk dirimu menjadi engkau hari ini

Kau harus kuat, kau harus hebat

Permata hatiku.”

Aku langsung bertepuk tangan seusai lagu dinyanyikan. Aku tertegun sejenak, lagu yang sering dinyanyikan Papa saat malam hari. Namun, aku tak menyadari akan liriknya. Sampai Keenan menyanyikannya malam ini. Suara Keenan sangat indah menyatu dengan lagu itu.

“Wah baguss! terharu banget nann, kok bisa tau soal lagu itu??”

“Loh dirimu baru tau? aku nih udah sohib banget sama Om Dirga, makanya aku tau. Udah oke belum suaranya? udah cocok kan, tampil di MasterChef? “

“HAHAHAH, ada ajaa astaga Keenan,” Aku pun reflek tertawa mendengar itu.

“ciee udah bisa ketawa ciee.” Diriku menyengir mendengar hal itu. Keenan selalu punya lawakan untuk membuat orang lain tertawa

“vaa, aku ga ngelarang kau buat bersedih, tapi tolong jangan lama lama yaa nivaa. mau tidak mau kita harus ikhlas. “

“iyaa keenann, aku usahain buat ihklas, makasih yaa sudah menghibur di hari palingg berat seumur hidup aku.” ucapku dengan sedikit menghela napas.

“Sama-sama, segera pulih yaa Lenivaa!! dan selamat beristirahat.”

             ***

“HAI, sayang selamat kembali.” ucap Nara antusias, ia langsung memelukku. Hari ini adalah hari pertama setelah 5 hari aku tidak masuk sekolah, setelah sepeninggalan Papa. Hari-hari yang sulit, yang membuatku tak mampu berbuat apa-apa. Hanya berdiam diri di kamar, selalu menangis setiap malam. Kesedihan itu menguras energi ku yang membuatku jatuh sakit.

“Makasih yaa Niva sudah mencoba untuk bangkit di saat terberatmu.” aku mengangguk samar, karena aku merasa belum mencoba hal itu.

“Kau tau, dunia seakan memaksaku untuk menerima kehilangan ini. Aku belum bisa ikhlas Ra, belum bisa rela atas kepergian papa.” Mengatakan hal itu membuat mataku berkaca-kaca.

“gapapa Nivaa, itu memang sesuatu yang sulit untuk dilakukan, kamu tidak menyerah saja itu sudah keren. Dan kamu ga sendirian melewati ini semua niva. ” kata Nara sambil mengelus pundak ku. aku sangat beruntung memiliki Nara.

Bel pulang sudah berbunyi, aku berjalan ke gerbang. Mencari sosok yang selalu menjemputku, tapi tak ku temukan. Aku malah melihat paman Andy yang datang menjemput. Ah iya, papa sudah tidak ada. Itu kebiasaan yang sulit dihilangkan.

Biasanya sepulang sekolah, di atas motor ini, papa selalu bertanya ‘lagi pengen makan apa’ ‘mau singgah kemana’. Ia juga yang selalu semangat menjelaskan mengenai setiap sudut kota dengan berbagai kenangan. Ya Tuhan aku rindu dengan sosok itu.

“Kak, kita beli makan siang dulu yaa buat orang dirumah.” ucap paman Andy dan aku mengangguk sebagai jawaban.

Paman dan aku masuk memesan makanan. Aku duduk di kursi tunggu, menunduk. Berusaha untuk terlihat baik baik saja ternyata susah ya.

                                                                        ***

Keesokan harinya, sepulang sekolah aku sedang berada di perpustakaan sekolah. Sudah punya janji dengan keenan untuk mengajariku materi pelajaran yang tertinggal. Sedari tadi aku memerhatikan keenan yang sedang menjelaskan materi, keenan pengajar yang baik. Namun, aku tak bisa mengendalikan penuh jiwaku untuk fokus belajar. Ntah karena rasa duka yang masih terbayang bayang.

“Keenan, kayanya aku lagi gabisa fokus belajar deh sekarang”

Keenan terlihat sudah menyadari hal itu, namun ia tak membicarakannya.

“Mau beli es krim dulu ga vaa? “

Dia hafal betul es krim selalu bisa memperbaiki suasana hatiku. Tetapi, mungkin tidak untuk saat ini, sebuah es krim tak akan berpengaruh.

“Ga dulu deh kayanya nan.”

“Ya sudah kita pergi aja yuk, jalan-jalan. “

Aku pun bingung, tiba-tiba sekali?

“Mau kemana?”

“Mencari semangatmu.” Ucap keenan tersenyum.

Dengan motornya, Keenan membawaku pergi ke sebuah taman. Taman yang luas dan asri, yang didalamnya terdapat danau yang membentang. Kami duduk di tepi danau, Sebentar lagi senja akan tiba. hal itu benar-benar membuat ku bersemangat. Aku sedang sendiri, Keenan pergi sebentar untuk membeli sesuatu katanya.

Aku menikmati suasana danau itu. Kembali merenung, kepergian Papa benar-benar membuat hidupku berantakan. Pah, melewati hari tanpa dirimu itu adalah suatu hal yang tak pernah kubayangkan. Sekarang aku sedang merasakannya. Pah, sekarang aku lebih banyak sedihnya daripada senangnya, lebih banyak nangis daripada tertawa. Kepergianmu adalah hal terberat dalam hidupku. Papa harus tau, sesak rasanya setiap kali aku rindu tapi kita tak bisa bertemu.

Aku mengambil notes di dalam tas ku. Dan mulai menulis sebuah puisi yang sudah lama terukir di pikiranku, namun belum sempat ku tuangkan ke dalam tulisan.

                                                  SANGGUPKAH DIRIKU

Bias jingga di ujung cakrawala

Membuatku senang dan takjub

Teringat akan wajah seseorang yang bangga kepadaku

lebih dari siapapun

Piringan matahari hampir lenyap

Berganti dengan malam yang dingin

Teringat akan seseorang yang khawatir

Pada waktu ini

Rintik air mulai turun

Aku tak menyukai

Karena hujan hanya membuatku

Menunggu sambungan dari cerita hidupmu

Engkau cinta pertamaku

Aku merindukan mu

Sanggupkah diriku

Tanpa kehadiranmu.

setetes air mata jatuh setelah aku menulis kalimat terakhir puisi itu. apa memang seberat inikah Tuhan?

“Puisi mu bagus vaa.” aku terkejut mendengar suara itu, ternyata keenan sudah dibelakang memegang dua buah es krim.

aku tak menanggapi pujiannya dan langsung mengalihkan topik.

“Bawa apa tu nann? ” Keenan pun duduk di sebelah ku.

“Aku tau es krim ga akan mempan untukmu saat ini, tetapi makan es krim di tepi danau seraya melihat senja mungkin bisa membuatmu senang.” ucap keenan dengan senyumnya yang kikuk.

mendengar itu, aku pun tertawa dengan keras

“kreatif dan inovatif yaa nan.”

setelah itu hening, tak ada percakapan.

Kami hanya diam, memakan es krim dan fokus menyaksikan matahari tenggelam.

“Sesulit itu yaa vaa berdamai dengan duka.” Ucap Keenan memulai percakapan.

“Iyaa nan sulit sekali, papa itu sebagian hidup aku. Papa sosok yang selalu bangga denganku. dan sekarang ga ada sosok sepertinya lagi.”

“Om Dirga akan selalu bangga dengan mu vaa, tidak seharusnya kamu mengecewakan beliau dengan menjalani hidup yang sesak. Bumi akan terus berputar, dunia terus berjalan. Kamu juga harus segera pulih.”

“Gimana coba nan caranya??” tanyaku dengan nada tinggi.

awal nya Keenan sedikit terkejut, kemudian ia mulai menjawab.

“Dengan mencari kesibukan mungkin vaa. Kamu sedih karena masih memiliki banyak waktu kosong dan luang untuk memikirkan kepergian Om Dirga.” Jelas Keenan.

“Ya sudah bantu aku mencari kesibukan.”

“Itu gampang, sekarang niat kan dulu kemauan itu di dalam hati mu vaa.”

Dan aku pun hanya diam, mengakhiri percakapan.

            Acara menyaksikan senja telah usai. Sekarang kami sedang berjalan menuju parkiran. Hari sudah gelap. Saat malam hari, taman ini terlihat lebih indah dengan berbagai lampu yang menyinarinya.

“Keenan, aku sudah bersemangat. Ayo kita lanjut untuk belajar sekarang.”

“Lanjut besok aja yaa Vaa. Kasian mama mu sendiri saat ini. Ia pasti tidak pernah bilang kalau ia kesepian. Kita terlalu sibuk mencari jalan keluar untuk pulih, sampai kita yang jarang untuk pulang.”

Perkataan Keenan terakhir membuatku terdiam. Benar juga bagaimana dengan Mama, pasti ia sama hancurnya dengan diriku, atau lebih dari itu. Aku terlalu sibuk dengan masalah pikiran ku, sampai lupa akan Mama. Ia pasti memeluk semua takdirnya sendirian.             Maafkan aku ma, sudah membuatmu merasa kesepian. Aku berjanji akan lebih peduli.

                                                                        ***

“Niva, jadi nebeng untuk pulang?” suara keenan terdengar dari ponsel.

“Ah iya Nan, bentar aku otw ke gerbang.” Ucapku sambil membereskan barang bawaan. Aku berjalan menuju gerbang, dan langsung menemukan Keenan.

“AHAHAHA.” Diriku tertawa mendengar Keenan menirukan Bu Len yang marah di kelas. sosok guru yang satu itu memang sangat unik. Beliau mengajar sangat bergantung dengan suasana hatinya. Dan percakapan di motor dengan Keenan saat itu sangat menyenangkan.

“Vaa, lagi pengen makan apa hari ini? “

Hening, aku mendadak membisu.

Kalimat itu, sudah lama sekali aku tidak mendengarnya. Aku kira aku tak akan pernah mendengarnya lagi setelah sosoknya yang hilang.

“Nan, kau makin mirip yaa sama Papa.”

“Oh jelas dong, aku ini sebenarnya anak Om Dirga yang terpisahkan. “

“Eh enak ajaa, anak Om Dirga satu-satu nya itu hanya aku, jangan ngaku-ngaku yaa engkau.” Balasku tak terima.

“Ahahaha, iyaa deh iyaa. ” jawab keenan mengalah

Aku sangat beruntung memiliki keluarga yang mendukung, paman yang bisa diandalkan, Mama yang selalu bisa jadi figure apapun dalam hidupku. Teman teman yang baik dan selalu ada untukku. Bersama mereka aku pulih!

Pah, aku sekarang sudah baik baik saja. Rasa duka itu akan selalu ada, namun aku sudah berdamai saat ini. Papa selalu bangga padaku, tapi aku janji akan menjadi anak yang layak untuk Papa banggakan disana suatu saat nanti. Aku merindukan mu Pa, akan terus merindukanmu. Terimakasih sudah hadir dalam 15 tahun di hidupku. Dan Papa harus tau, aku bangga terlahir menjadianakmu.

Oleh : SASHY KIRANA

  • Bagikan
Exit mobile version
  • slot777 maxwin
  • slot depo 10k
  • dewi 138
  • slot bet 200
  • sultan188
  • duniacash
  • https://dewa138.xyz/
  • https://dewa138.wiki/
  • sultan188 login
  • slot demo
  • demo slot pg
  • slot777
  • slot maxwin
  • https://lkp-lcec.com/
  • sultan188
  • dewa138
  • https://akkum.kazygurt.edu.kz/
  • https://sarzhaz-sozak.edu.kz/
  • https://airstride.umairqureshi.me/
  • https://tencamintegratedbuilders.org.ng/
  • panen138