AKunberita.id. Dinding sel penjara Pramuka yangdingin dan lembap pada tahun 1964 tidak mampu membendung gemuruh semangat di dada Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau yang lebih kita kenal dengan nama Buya HAMKA.
Dibalik jeruji besi tanpa pengadilan yang sah, ulama yang zuhud ini menolak untuk patah arang. Alih-alih tunduk kepada sang Penguasa, atas tuduhan makar yang keji, Ulama asal Sumatera Barat ini justru melawan kedzoliman yang dialaminya dengan goresan pena yang abadi.
Di dalam ruangan sempit dan cahaya yang minim itulah HAMKA semaki meneguhkan prinsip hidupnya.
“Jangan takut jatuh, karena yang tidak pernah memanjatlah yang tidak pernah jatuh”.
Tafsir Al Azhar, sebuah bukti bahwa pikiran tidak bisa dipenjara.
Perjuangan Buya HAMKA bukanlah tipe perlawanan fisik dengan senjata di garis depan, melainkan pertempuran gagasan, ide dan prinsip yang istiqomah.
Sejak masa pendudukan Jepang hingga era kemerdekaan, pena dan suaranya di atas mimbar merupakan senajata yang paling ditakuti oleh para penindas.
Prinsip hidupnya lugas dan menginspirasi para generasi muda.
“Kalau hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja”.
Sebagai Ketua Majelis Ulam Indonesia (MUI) yang erptama, Buya lebih memilih jabatan mentereng tersebut demi mempertahankan prinsip yang diyakininya benar, sebab bagi sang “Singa Mimbar” ini “Berani menegakkan Keadilan walaupun mengenai diri sendiri, adalah puncak segala keberanian”.
Sifat yang penuh empati dan pemaaf justru menjadi pelengkap yang memperindah garis perjuangannya yang tegas. Ketika Presiden Soekarno (orang yang bertanggung jawab atas penahanannya) wafat, Hamka tidak menyimpan dendam kesumat di dalam hatinya. Ia mempraktikkan filosofi hidupnya bahwa “Kata-kata yang lemah dan beradab dapat melembutkan hati dan manusia yang keras.” Melalui sebuah memoar yang dicatat sejarah, Hamka dengan tulus memenuhi wasiat Bung Karno untuk menjadi imam salat jenazahnya.
Air mata Hamka menetes saat menyalatkan sang proklamator, membuktikan bahwa perjuangan politiknya didasari oleh cinta yang mendalam terhadap sesama manusia, bukan kebencian personal yang membutakan.
Kini, warisan perjuangan Buya Hamka tetap hidup dan relevan bagi generasi muda Indonesia melalui ratusan buku dan novel sastra yang ia tinggalkan. Ia telah mencontohkan bahwa berjuang untuk kebenaran membutuhkan kombinasi antara keteguhan prinsip seteguk karang dan kelembutan hati seluas samudra.
Kisah hidupnya senantiasa mengingatkan kita untuk tidak menjadi manusia pasif yang terombang-ambing oleh zaman. Seperti pesan magis yang pernah ia tulis, “Hidup tanpa tujuan ibarat kapal tanpa kemudi, terombang-ambing tak tentu arah.” Hamka telah tiada, namun ia berhasil memenangkan sejarah sebagai manusia yang merawat nurani bangsa hingga akhir hayatnya.
