Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution
Haji adalah salah satu rukun Islam. Tetapi, pelaksanaan ibadah haji hanya diwajibkan bagi orang yang sudah mampu secara finansial. Kewajibannya pun hanya diwajibkan satu kali seumur hidup.
Pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan memberikan pesan-pesan penting terhadap kehidupan kita saat ini, karena pesan-pesan tersebut telah disebutkan Rasulullah SAW saat melaksanakan haji terakhir (haji wada’) pada tahun 10 H.
Khutbah Wada Rasulullah SAW saat berada di padang Arafah, Rasulullah SAW berkhutbah di hadapan kaum muslimin. Khutbah tersebut dapat ditemukan dalam kitab hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Di antara isi khutbah tersebut, “Wahai manusia, dengarkanlah apa yang akan aku sampaikan, karena bisa jadi aku tidak bertemu lagi dengan kalian di tempat ini, setelah tahun ini, selamanya.
Wahai manusia, sesungguhnya darah dan harta kalian adalah haram dizhalimi oleh siapa saja diantara kalian, sebagaimana haramnya hari ini, pada bulan ini, di negeri ini. Ketahuilah, sesungguhnya segala perkara jahiliyyah berada di telapak kakiku (dibatalkan) dan darah jahiliyyah juga dibatalkan.
Wahai manusia, sesungguhnya setan telah putus asa karena tidak disembah lagi di bumi kalian ini, selamanya. Akan tetapi, jika setan ditaati pada perkara lainnya, maka ia akan membuat kalian rela terhadap perbuatan yang kalian anggap hina. Maka, berhati-hatilah kalian dengan setan dalam menjalankan agama.
Wahai manusia, sesungguhnya riba nasiah itu adalah tambahan dalam kekafiran. Hal itulah yang telah membuat orang-orang kafir kian sesat. Mereka menghalalkannya selama satu tahun, kemudian mengharamkannya selama setahun berikutnya. Mereka ingin menginjak-injak apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh-Nya. Dan sesungguhnya zaman itu telah berputar sebagaimana mestinya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun terdiri dari 12 bulan.
Bertakwalah kalian kepada Allah dalam memperlakukan wanita. Karena kalian telah mengambil mereka dengan jaminan dari Allah, dan kalian juga telah meminta kehalalan kemaluan mereka dengan menggunakan kalimat Allah. Sesungguhnya kalian memiliki hak atas mereka, dan mereka pun memiliki hak atas mereka, dan mereka pun memiliki hak atas kalian.
Mereka berkewajiban menjaga tempat tidur kalian dari orang-orang yang kalian tidak sukai. Jika mereka melanggarnya, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai. Mereka juga berhak mendapatkan rezeki dan pakaian dari kalian dengan cara yang baik.
Renungkanlah, wahai manusia, ungkapan yang telah aku sampaikan kepada kalian. Aku juga meninggalkan sesuatu buat kalian, di mana kalian tidak akan sesat selamanya sepanjang kalian berpegang teguh padanya: al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia, dengarkanlah dan taatilah, sekalipun yang memimpin kalian itu adalah seorang hamba sahaya yang catat dari bangsa Habasyah, selama ia menegakkan al-Qur’an di tengah-tengah kalian.
Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku dan pahamilah. Ketahuilah bahwa setiap muslim itu bersaudara satu dengan yang lainnya. Bahwa sesama muslim itu saling bersaudara. Karena itu, tidak halal bagi seorang pun mengambil milik saudaranya, kecuali dengan cara yang benar. Jangan menzhalimi diri kalian. Ya Allah, apakah aku telah menyampaikannya? Kalian pasti akan bertemu dengan Tuhan kalian, maka janganlah kalian kembali sesat (sepeninggalku) dengan saling menzhalimi satu sama lain.”
Esensi Pesan Haji Rasulullah SAW
Khutbah wada’ (pidato perpisahan) Rasulullah SAW. yang dibacakan di Arafah tersebut memiliki pesan kemanusia yang sangat luar biasa. Pesan kemanusiaan tersebut untuk diamalkan dan dijaga oleh seluruh kaum muslimin. Karena Rasulullah SAW. adalah pemersatu kaum muslimin yang tadinya berpecah-belah disebabkan sentimen dan fanatisme kesukuan.
Pidato perpisahan Rasulullah SAW tersebut juga memberikan potret bahwa potensi perpecahan umat Islam kembali muncul manakala beliau sudah tidak ada. Kerena itu, beliau mewanti-wanti dengan cukup keras terhadap hal tersebut. Masalah kezaliman juga sangat beliau tekankan, karena watak manusia pada dasarnya mendorong dirinya untuk berbuat zalim, apalagi jika di lingkungan sosial berlaku hukum pengklasifikasian sosial.
Rasulullah SAW menegaskan bahwa tidak ada pengkelas-kelasan sosial di dalam Islam, karena pada hakikatnya manusia adalah sama. Yang membedakannya adalah ketakwaannya. Ketika memiliki ketakwaan yang benar maka ia tampak terlihat dalam pesan positif yang dimainkannya di lingkungan sosial.
Rasulullah SAW juga mewanti-wanti untuk tidak tergoda dengan bisikan setan, karena bisikan-bisakan setan selalu mengarahkan manusia pada hal-hal negatif yang menimbulkan permusuhan dan pertikaian di antara sesama manusia, serta menjerumuskan manusia ke dalam jurang kehancuran.
Mengenai riba, Rasulullah SAW sangat menekankan larangannya. Praktik-praktik riba nyata-nyata membuat manusia menderita, menimbulkan krisis sosial-ekonomi yang cukup parah. Hingga pada gilirannya nanti akan muncul masalah-masalah sosial lainnya, seperti pengangguran, kriminalitas, korupsi dan kemiskinan.
Rasulullah SAW. juga mengingatkan tentang kepemimpinan. Bahwa siapa pun pemimpinnya, selama ia tidak bermaksiat kepada Allah dan tidak menzhalimi rakyat, ia harus didengar dan ditaati. Jika menyimpang, rakyat juga tidak dilarang untuk mengkritisi dengan cara-cara yang baik dan bijaksana.
Para pemimpin pun mesti mau mendengarkan segala kritikan yang disampaikan oleh rakyatnya. Apalagi, Rasulullah pernah berpesan tentang tipe pemimpin dan rakyat yang baik. “Pemimpin terbaik adalah pemimpin yang mendoakan rakyatnya, dan rakyat juga mendoakannya.”
Inilah beberapa pesan haji Rasulullah SAW yang disampaikannya di Arafah.
Menjadi pelajaran buat umat Islam untuk merealisasikan apa yang disampaikan Rasulullah SAW di dalam khutbahnya tersebut. Masyarakat yang adil, sejahtera, aman dan sentosa akan terwujud ketika setiap muslim, baik yang sudah haji maupun belum, mau menjalankan pesan Haji Rasulullah SAW tersebut.
Penulis adalah Ketua Komisi Informasi dan Komunikasi MUI Kita Medan
