Islam ya Islam

  • Bagikan

Ada masa ketika kita terlalu sibuk mencari nama untuk Islam. Islam yang ini… Islam yang itu…Islam versi kelompok ini…Islam menurut tokoh itu. Seakan-akan kata Islam saja belum cukup.

Padahal dahulu Rasulullah ﷺ datang tidak membawa Islam dengan berbagai embel-embel. Beliau membawa manusia untuk tunduk kepada Allah, beriman kepada-Nya, mengikuti wahyu-Nya, memperbaiki akhlak, menegakkan keadilan, menyayangi sesama, dan mempersiapkan diri untuk pulang kepada-Nya.

Islam ya Islam.

Islam yang mengajarkan kita bersujud ketika manusia sedang terlelap. Islam yang membuat mata takut memandang yang haram, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.

Islam yang membuat tangan takut mengambil sesuatu yang bukan haknya. Islam yang membuat lidah berhenti berdusta, memfitnah, mencaci, dan merendahkan orang lain.

Islam yang membuat seorang pedagang takut menipu. Islam yang membuat seorang pejabat takut berkhianat. Islam yang membuat seorang ulama takut menjual kebenaran demi kedekatan dengan manusia.

Islam yang membuat seorang suami lembut kepada keluarganya, seorang istri menjaga amanah rumah tangganya, dan anak-anak mengetahui bahwa berbakti kepada orang tua adalah jalan menuju keridhaan Allah.

Itulah Islam.

Bukan sekadar nama yang kita banggakan. Bukan sekadar identitas yang kita tuliskan. Bukan pula sekadar slogan yang kita teriakkan.

Sebab betapa mudah mengatakan, “Aku Muslim,” tetapi betapa berat menjadikan seluruh kehidupan benar-benar berserah kepada Allah.

Allah berfirman:

«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً»

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan.”
(QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini seperti mengetuk pintu hati kita: Sudahkah Islam masuk ke seluruh kehidupan kita?

Ataukah Islam baru berada di sajadah, tetapi belum masuk ke tempat kerja? Sudah berada di masjid, tetapi belum masuk ke pasar?

Sudah terdengar dalam ceramah, tetapi belum terasa dalam akhlak?

Sudah memenuhi media sosial kita dengan ayat dan nasihat, tetapi belum mampu menahan jari kita dari mencela?

Sudah membuat dahi kita sering menyentuh sajadah, tetapi belum membuat hati kita rendah di hadapan sesama?

Di sinilah kita perlu berhenti sejenak untuk bermuhasabah. Jangan sampai kita sibuk membela Islam, tetapi lupa menjalani Islam.

Jangan sampai kita lantang berbicara tentang syariat, tetapi sulit berlaku adil.

Jangan sampai kita rajin mengoreksi kesalahan saudara kita, tetapi jarang menangisi dosa sendiri.

Jangan sampai kita begitu mudah menentukan siapa yang kurang Islami, sementara kita sendiri belum selesai berjuang menundukkan hawa nafsu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»

“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Betapa dalam maknanya.

Islam ternyata bukan hanya apa yang kita katakan tentang diri kita.

Islam juga terlihat dari apa yang dirasakan orang lain ketika berhadapan dengan kita.

Apakah mereka merasa aman dari lisan kita?

Apakah keluarga merasakan kelembutan kita?

Apakah tetangga merasakan kebaikan kita?

Apakah orang yang berbeda pendapat tetap mendapatkan adab kita?

Apakah ketika memegang amanah, orang lain merasa hak mereka terlindungi?

Jika belum, mungkin yang perlu kita perbanyak bukan perdebatan tentang Islam, tetapi pengamalan terhadap Islam.

Islam Tidak Membutuhkan Kosmetik. Islam sudah sempurna.

Allah berfirman:

«الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ»

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu.”
(QS. Al-Ma’idah: 3)

Karena itu, tugas kita bukan membuat Islam menjadi sesuatu yang lain agar terlihat menarik di hadapan manusia.

Tugas kita adalah mempelajarinya dengan benar, mengimaninya dengan tulus, mengamalkannya dengan istiqamah, mendakwahkannya dengan hikmah, dan memperlihatkan keindahannya melalui akhlak.

Kalau ingin mencari model Islam, tengoklah Rasulullah ﷺ.

Lihat bagaimana beliau beribadah. Lihat bagaimana beliau memimpin. Lihat bagaimana beliau memperlakukan keluarga. Lihat bagaimana beliau menghadapi orang miskin. Lihat bagaimana beliau memperlakukan musuh. Lihat bagaimana beliau bersikap ketika memiliki kekuasaan. Lihat bagaimana beliau menangis di hadapan Allah.

Di situlah kita menemukan Islam yang hidup. Islam yang tidak hanya berada di lembaran kitab, tetapi berjalan di tengah manusia.

Jangan Sibuk dengan Label, Lalu Kehilangan Substansi Hari ini kita terkadang lebih mudah bertengkar karena label daripada bersatu dalam kebaikan.

Kita bisa berbeda dalam persoalan yang memang memiliki ruang perbedaan pendapat. Kita dapat memiliki organisasi, lembaga, majelis, metode pendidikan, atau pendekatan dakwah yang berbeda.

Tetapi jangan sampai semua itu menjadi tembok yang membuat kita lupa bahwa kiblat kita satu, Al-Qur’an kita satu, Nabi kita Muhammad ﷺ, dan Rabb yang kita sembah adalah Allah.

Perbedaan yang dibenarkan tidak seharusnya mematikan ukhuwah. Kita boleh memiliki nama organisasi. Kita boleh mempunyai identitas lembaga. Kita boleh belajar kepada guru yang berbeda.

Tetapi ketika semuanya membuat kita merasa bahwa hanya kelompok kita yang pantas dicintai sementara saudara Muslim lainnya mudah direndahkan, ada sesuatu yang perlu diperiksa dalam hati.

Sebab tujuan agama bukan membesarkan nama kelompok. Tujuannya adalah membesarkan Allah dalam hati manusia. Pada Akhirnya Kita Akan Pulang Sendiri

Kelak ketika jenazah kita dibaringkan, banyak label dunia akan tertinggal. Jabatan tertinggal. Popularitas tertinggal. Organisasi tertinggal. Pengikut tertinggal.

Perdebatan yang dahulu begitu kita menangkan pun tertinggal. Yang ikut masuk bersama kita hanyalah amal.

Saat itulah pertanyaannya menjadi sangat sederhana: Sudahkah aku benar-benar menjadi seorang Muslim?

Bukan Muslim yang sempurna, karena kita semua memiliki dosa dan kekurangan. Tetapi Muslim yang ketika berdosa segera kembali.

Ketika salah segera bertobat. Ketika diberi nikmat segera bersyukur. Ketika diuji berusaha bersabar. Ketika berbeda tetap menjaga adab. Ketika memiliki kekuasaan takut berbuat zalim. Ketika sendirian tetap merasa diawasi Allah. Dan ketika dunia memanggil dengan segala gemerlapnya, hatinya tetap mengetahui:

Aku milik Allah, dan kepada Allah aku akan kembali.

Maka mungkin kita memang perlu kembali kepada sesuatu yang sangat sederhana:

Islam ya Islam.

Tidak perlu sibuk memperindah namanya. Perindahlah akhlak kita dengannya. Tidak perlu sibuk membanggakan identitasnya.

Buktikanlah ketundukan kita kepada Allah. Tidak perlu terlalu sibuk menunjukkan kepada dunia betapa Islaminya kita.

Cukuplah Allah mengetahui betapa kerasnya kita berjuang agar tetap istiqamah di jalan-Nya. Karena pada akhirnya, yang menyelamatkan kita bukan seberapa hebat kita berbicara tentang Islam.

Tetapi seberapa sungguh-sungguh kita hidup sebagai seorang Muslim, mati sebagai seorang Muslim, dan menghadap Allah membawa hati yang berserah kepada-Nya.

Islam ya Islam.

Sederhana namanya. Tetapi seluruh umur kita mungkin belum cukup untuk menyempurnakan pengamalannya.

اللَّهُمَّ أَحْيِنَا عَلَى الْإِسْلَامِ، وَأَمِتْنَا عَلَى الْإِيمَانِ

Ya Allah, hidupkanlah kami di atas Islam, dan wafatkanlah kami di atas iman

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *