Kelaparan Parah di Gaza, Dunia Marah: Di Mana Suara Pemimpin Arab?

  • Bagikan
rakyat Palestina kelaparan
rakyat Palestina kelaparan

Gaza (Akunberita.id) 23 Juli 2025. Krisis kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk. Ribuan warga, terutama anak-anak dan perempuan, kini menghadapi kelaparan akut akibat blokade yang terus berlangsung dan minimnya bantuan kemanusiaan yang masuk. Badan-badan internasional menyebut situasi ini sebagai “bencana yang dibuat manusia”.

Warga Gaza hidup di tengah reruntuhan, tanpa cukup makanan, air bersih, atau perawatan medis. Laporan terbaru dari PBB menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen populasi Gaza mengalami kerawanan pangan ekstrem. Banyak keluarga hanya bisa makan sekali dalam sehari—dan itu pun bukan makanan layak.

Di tengah penderitaan ini, kritik tajam ditujukan kepada para pemimpin negara-negara Arab yang dinilai memilih bungkam. Beberapa pihak menyebut sikap diam mereka sebagai bentuk pembiaran terhadap genosida perlahan yang sedang terjadi.

Sementara itu, rakyat Gaza hanya bisa berharap dari dunia luar. Bukan hanya lewat pernyataan simpatik, tapi dengan tindakan nyata, termasuk dari mereka yang seharusnya menjadi saudara terdekat: para pemimpin Arab.

Kelaparan massal melanda Jalur Gaza. Lebih dari 2,2 juta warga Palestina terjebak di wilayah sempit yang diblokade total sejak Oktober 2023. Laporan terkini dari World Food Programme (WFP) dan OCHA (Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan) menyatakan bahwa lebih dari 90% populasi Gaza kini hidup dalam kelaparan ekstrem.

Sejak agresi militer besar-besaran oleh Israel dimulai pada Oktober 2023, jalur distribusi makanan, obat-obatan, dan bahan bakar dihentikan hampir total. Blokade darat, laut, dan udara diberlakukan tanpa kecuali. Gaza kini tidak memiliki akses rutin terhadap pasokan pangan, air minum layak, dan energi.

Anak-anak paling menderita. UNICEF melaporkan lebih dari 31.000 anak-anak menderita kekurangan gizi akut, dan angka kematian balita akibat kelaparan meningkat secara drastis. Gambar anak-anak dengan tubuh kurus kering dan mata kosong beredar luas di media sosial dan laporan media internasional.

Di tengah situasi ini, pemerintah negara-negara Arab mayoritas diam. Hingga Juli 2025, tidak ada satu pun negara Arab yang secara aktif mengirim bantuan kemanusiaan besar-besaran secara langsung ke Gaza. Beberapa negara seperti Mesir dan Yordania hanya membuka perbatasan Rafah secara terbatas, di bawah tekanan internasional.

Data faktual:

  • Liga Arab belum mengeluarkan resolusi tegas menuntut pembukaan jalur kemanusiaan secara permanen.
  • Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Mesir tercatat belum mengirimkan bantuan pangan langsung ke Gaza dalam tiga bulan terakhir (data PBB).
  • Per 1 Juli 2025, hanya konvoi terbatas dari organisasi non-pemerintah yang berhasil masuk Gaza, sebagian besar melalui tekanan internasional dan perundingan panjang.

Organisasi kemanusiaan menilai kelambanan dan keheningan pemimpin Arab sebagai faktor kunci lambatnya respons internasional terhadap krisis ini. Amnesty International dan Human Rights Watch menyebut situasi ini sebagai “krisis kelaparan buatan” yang diperparah oleh “ketidakhadiran solidaritas regional”.

Sementara itu, blokade terus diberlakukan. Israel menyatakan pengawasan ketat atas bantuan dilakukan untuk “mencegah penyelundupan senjata”. Namun, laporan dari Human Rights Council menyatakan bahwa lebih dari 70% bantuan medis dan makanan ditolak masuk selama Juni 2025.

Di tengah penderitaan ini, rakyat Gaza terus berjuang untuk hidup. Tetapi tanpa tekanan diplomatik dan dukungan aktif dari negara-negara Arab, jalan keluar dari krisis kelaparan ini masih terlihat jauh.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *