Makna Ziarah ke Gua Hira

  • Bagikan

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc


Bagi para jamaah haji, ziarah ke gua Hira bukan sekedar untuk melihat tempat Rasulullah SAW. bertahannus saja. Tapi, jadikanlah pedoman apa yang dilakukan Muhammad bin Abdullah saat sedang beribadah dan seperti apa perilakunya pasca turun wahyu pertama al-Qur’an.


Bila Rasulullah SAW. ingin mendapatkan rezeki dan pengetahuan dengan cara bertahannus di gua hira. Tentu saja, Rasulullah sebelum bertahannus sudah bekerja dan meninggalkan bekal untuk isterinya, Khadijah.


Maka, menjadi pelajaran bagi para jamaah haji ketika mengunjungi gua Hira menjadikan pelajaran, bila ingin mendapatkan rezeki dan pengetahuan lebih dari saat ini adalah, dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT., namun tak melupakan bekerja secara fisik.


Pelajaran monotaisme atau mengesakan Allah SWT. adalah makna utama dari ziarah ke gua Hira. Mengakui bahwa hanya Allah SWT. Tuhan pemberi rezeki dan pengetahuan, sehingga tak mengherankan bila ayat pertama bicara tentang rezeki harus diawali dengan mengesakan Allah SWT. dan memiliki ilmu.


Tanpa ada ilmu, proses pencarian rezeki bakal mengalami kesusahan. Namun memiliki ilmu tanpa pernah dekat dengan Allah SWT. pun bakal sulit mendapatkan rezeki dari Tuhan. Dekat dengan Allah dan memiliki ilmu adalah kunci utama mendapatkan rezeki dari Allah SWT. Inilah inti dasar dari makna ziarah ke Gua Hira.  


Satu lagi, pasca Rasulullah SAW mendapatkan wahyu pertama yang berisi anjuran membaca, beliau menjadi pribadi yang santun, memikat dan elegan. Pasalnya, Rasulullah SAW. mengamalkan apa yang dianjurkan Allah SWT., yaitu membaca. Yang dibaca Rasulullah SAW. ada dua, yaitu al-Qur’an dan alam semesta yang disaksikannya.


Tak mengherankan, saat Rasulullah SAW. menyampaikan pesan dakwah tauhid kepada khalayak Quraisy saat itu dilakukan dengan santun, meski beliau berkali-kali mendapatkan tekanan dan ancaman.

Rasulullah SAW sudah membaca apa yang bakal dialami dengan melihat dan memahami psikologis yang dimiliki oleh masyarakat Quraisy. Bukan tangung-tanggung, 13 tahun Rasulullah bersabar menghadapi masyarakat Quraisy dan istiqomah menyebarkan agama tauhid.Tak sekali pun Rasulullah SAW melayani tekanan dan kecaman yang dilakukan oleh masyarakat Quraisy. Semua itu, hasil proses pembacaan Rasulullah SAW., baik dari wahyu Allah SWT maupun kehidupan masyarakat Quraisy saat itu.

Karena itu, ziarah ke gua Hira mestinya menjadi pelajaran juga bagi para jamaah haji atau jamaah umroh yang berkesempatan mengunjunginya. Dalam hidup ini dibutuhkan pembacaan, baik melalui Kalam Tuhan maupun alam. Dibutuhkan kesabaran yang tiada batas untuk meraih keberhasilan. Andai saja Rasulullah SAW. saat menyebarkan dakwah di Mekah tidak bersabar, tentu Islam tidak akan diklaim sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.


Apa yang dialami Rasulullah SAW selama menyebarkan dakwah di Mekah meski penuh dengan tekanan dan ancaman namun tetap bersabar hingga Allah memerintahkannya hijrah (pindah) ke Madinah, barangkali mengilhami Syeikh Ahmad bin Muhammad ‘Athaillah menuliskan di dalam kitab Hikam, “Adalah termasuk orang bodoh, mereka meninggalkan apa yang sudah dimilikinya, karena hendak mencari yang baru dalam satu waktu, padahal Allah SWT telah memlih baginya pada waktu itu”.  


Bila dilihat dari sejarah, Rasulullah SAW pindah (hijrah) dari Mekah bukan karena tidak menyukai tinggal di Mekah, tapi lantaran perintah Allah SWT. Hal ini dapat dipahami dari perkataan Rasulullah, “Demi Allah, Sesungguhnya engkau (Mekah) bumi Allah yang paling baik dan paling dicintai. Jikalau aku tidak dikeluarkan dari Mekah, niscaya aku tidak akan pernah keluar.” (HR. Tirmidzi).

Walhasil, bila ingin mendapatkan rezeki dan dekat dengan Allah, caranya adalah dengan mengasingkan diri. Namun mengasingkan diri di sini bukan mesti tinggal di hutan atau di bukit. Mengasingkan diri maksudnya adalah, lebih banyak mengingat Allah SWT. dan mengasingkan diri dari keinginan duniawi. Bukan sekedar lantunan zikir yang dimaksud dengan zikir, tapi juga pembacaan terhadap apa yang diberikan-Nya, baik melalui Al-Qur’an maupun alam semesta.


Penulis adalah Ketua Komisi Informasi, Komunikasi dan Hubungan Luar Negeri MUI Kota Medan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *