Serial Dari Mihrab Maya
Oleh Ust Abdul Latif Khan
Episode 01
Ada kalimat yang sederhana… tapi sering kita tunda sampai ajal hampir menyapa:
bertaubat.
Berapa kali kita berkata, “Nanti…”
Nanti kalau sudah lebih tenang.
Nanti kalau sudah lebih tua.
Nanti kalau sudah tidak sibuk.
Padahal kita tidak pernah benar-benar tahu… apakah kita masih diberi “nanti”.
Allah memanggil kita dengan panggilan yang begitu lembut:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.”
(QS. At-Tahrim: 8)
Bukan “wahai pendosa”.
Bukan “wahai yang tersesat”.
Tapi “wahai orang-orang yang beriman.”
Seakan Allah ingin berkata,
“Karena engkau beriman, maka kembalilah.”
Kita Ini Terlalu Sibuk Menyembunyikan Luka
Kita tersenyum di depan manusia,
tapi hati kita penuh noda yang tak pernah kita cuci.
Kita pandai menutup kesalahan dari mata orang lain,
tapi lupa bahwa Allah melihatnya dalam gelap dan terang.
Kita tahu dosa itu salah.
Kita tahu itu menyakiti diri kita sendiri.
Tapi kita tetap mengulanginya… dan berharap waktu masih panjang.
Padahal Allah telah mengingatkan:
“Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui di bumi mana ia akan mati.”
(QS. Luqman: 34)
Bayangkan…
Kalau ini adalah hari terakhir kita.
Kalau malam ini adalah malam terakhir kita memejamkan mata.
Apa yang akan kita bawa?
Prestasi?
Harta?
Atau dosa yang belum sempat kita tangisi?
Bahkan Nabi pun Menangis dalam Istighfar
Manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ, beristighfar lebih dari tujuh puluh kali sehari.¹
Beliau yang dijamin surga.
Beliau yang maksum.
Beliau yang dicintai langit.
Lalu bagaimana dengan kita…
yang setiap hari lalai,
yang setiap malam tidur tanpa penyesalan?
Kalau beliau saja menangis dalam sujud,
mengapa kita merasa baik-baik saja?
Taubat Itu Bukan Sekadar Kata
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa taubat dimulai dari kesadaran, lalu penyesalan, lalu tekad untuk berhenti.²
Taubat bukan hanya “astaghfirullah” di lisan.
Taubat adalah dada yang sesak karena merasa jauh dari Allah.
Taubat adalah air mata yang jatuh tanpa ada manusia yang melihat.
Taubat adalah keputusan untuk berkata pada diri sendiri:
“Cukup. Aku ingin pulang.”
Karena pada akhirnya…
kita semua hanya ingin pulang.
Jangan Tunggu Hancur Dulu Baru Kembali
Mengapa kita sering menunggu sampai diuji berat baru mencari Allah?
Mengapa harus kehilangan dulu baru sadar?
Mengapa harus sakit dulu baru sujudnya panjang?
Allah sudah membuka pintu itu sekarang.
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu seperti pelukan bagi jiwa yang lelah.
Seperti tangan yang ditarik ketika kita hampir tenggelam.
Allah tidak berkata,
“Pergilah, engkau terlalu kotor.”
Allah berkata,
“Jangan putus asa.”
Rahmat-Nya lebih luas dari dosa kita.
Ampunan-Nya lebih besar dari kesalahan kita.
Mungkin Malam Ini…
Mungkin malam ini adalah kesempatan terakhir.
Mungkin ini adalah sujud terakhir yang masih bisa kita perpanjang.
Mungkin ini adalah istighfar terakhir yang masih sempat kita ucapkan.
Cobalah malam ini,
dua rakaat saja.
Tanpa pamer.
Tanpa status.
Tanpa cerita ke siapa pun.
Hanya engkau… dan Allah.
Menangislah, walau sedikit.
Akuilah, walau berat.
Katakan:
“Ya Allah… aku lelah menjauh. Aku ingin dekat.”
Karena bisa jadi, yang paling kita butuhkan bukan rezeki baru…
bukan jabatan baru…
bukan pujian baru…
Tapi hati yang kembali.
Mari kita mulai dengan bertaubat.
Sebelum kita ditangisi.
Sebelum pintu itu benar-benar ditutup.
Sebelum penyesalan tidak lagi berarti.
Karena saat Allah masih memanggil kita hari ini,
itu tanda bahwa Dia belum menyerah pada kita.
Dan mungkin…
Allah sedang menunggu kita menangis malam ini.
Catatan Kaki
- Hadis riwayat al-Bukhari tentang istighfar Nabi ﷺ lebih dari tujuh puluh kali sehari.
2. Ihya’ Ulum al-Din, Kitab at-Taubah.
Support MT As Sakinah di no rek Mandiri 1060010194564 an A. Latif










