MEDAN (AKunberita.id) Mayor Jenderal Rio Firdianto, Panglima Kodam I/Bukit Barisan, mengklaim bahwa ia tidak menemukan bukti penggundulan hutan atau pembalakan liar di Sumatera Utara setelah melakukan peninjauan udara (helikopter). pada Sabtu (29 november 2025).
Ia menyatakan bahwa bencana banjir dan tanah longsor baru-baru ini disebabkan murni oleh curah hujan tinggi yang sangat tinggi hingga membuat tanah tidak mampu lagi menahan air yang datang.
“Jadi banyak pohon-pohon yang memang itu hutan, karena mungkin terlalu deras hujannya sehingga longsor, dan itu terjadi di beberapa titik,” kata Rio Firdianto.
Benarkah bencana banjir dan longsor di Sumatera Utara hanya disebabkan intensitas hujan yang tinggi? Benarkah tidak ada penggundulan hutan di Sumatera Utara?Pernyataan ini tentunya menuai kontroversial dan bertentangan dengan temuan pihak lain:
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) sendiri telah menemukan setidaknya lima lokasi yang diduga menjadi titik pembalakan liar yang berkontribusi terhadap banjir di Sumatera.
Selain itu Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sumatera Utara dan para pakar lingkungan juga meyakini adanya aktivitas pembalakan liar yang memperparah bencana alam tersebut, menyebutnya sebagai “pesan kematian” dari hutan.
Sementara itu data dari Global Forest Watch mencatat adanya kehilangan hutan primer yang signifikan di wilayah tersebut, yaitu sekitar 390 ribu hektare, yang secara tidak langsung mendukung kekhawatiran tentang deforestasi.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni telah meminta bantuan Kepolisian RI untuk menelusuri asal-usul kayu gelondongan yang terbawa arus banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Bencana banjir dan longsor melanda 62 titik di Sumatera Utara yang tersebar di delapan kabupaten dan kota. Dua daerah yang terdampak paling parah yakni Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga.
sumber : Tempo.co












