Oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada lelah yang tidak terlihat di wajah. Kita masih tersenyum ketika bertemu orang lain. Masih menjawab, “Alhamdulillah, baik.” Masih mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Namun, ketika malam tiba dan rumah mulai sunyi, hati yang seharian kita kuatkan perlahan runtuh.
Kita memikirkan anak-anak. Memikirkan kebutuhan yang belum terpenuhi. Memikirkan orang yang kita sayangi, tetapi tak mampu kita lindungi dari segala kesulitan. Kita mengingat kesalahan sendiri, lalu bertanya dalam diam, “Ya Allah, kapan aku bisa bernapas lega?”
Jika hari ini engkau merasa seperti itu, menangislah bila perlu. Engkau tidak harus menyembunyikan air mata saat menghadap Allah.
Nabi Ya‘qub عليه السلام pun membawa dukanya kepada-Nya:
«“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
(QS. Yusuf: 86)»
Betapa menenangkan ayat itu. Kesedihan tidak membuat seorang hamba jauh dari Allah ketika ia membawanya kepada-Nya. Bahkan, boleh jadi pada saat engkau merasa paling rapuh, engkau sedang berbicara kepada Rabbmu dengan hati yang paling jujur.
Maka malam ini, duduklah sejenak di atas sajadah. Tidak perlu mencari kata-kata yang indah. Katakan saja apa yang selama ini engkau tahan:
“Ya Allah, aku lelah. Aku sudah berusaha, tetapi masih banyak yang belum sanggup kuselesaikan. Aku takut mengecewakan orang-orang yang kucintai. Aku takut kehilangan harapan. Tolong aku, ya Rabb. Jangan biarkan aku berjalan hanya dengan kekuatanku sendiri.”
Lalu, jika air matamu jatuh, biarkan. Allah mengetahui beban yang bahkan tak mampu engkau ceritakan kepada siapa pun.
Allah berfirman:
«“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5)»
Kemudahan itu mungkin belum tampak malam ini. Karena itu, beristirahatlah. Mintalah pertolongan. Kerjakan esok apa yang masih bisa engkau kerjakan. Serahkan kepada Allah apa yang berada di luar kemampuanmu.
Engkau boleh lelah dalam hidup ini. Tetapi jangan berhenti pulang kepada Allah.
Sebab saat tak ada lagi tempat untuk menumpahkan isi hati, pintu doa tetap terbuka. Dan dari atas sajadah itu, seorang hamba yang kehabisan tenaga masih dapat berbisik:
“Ya Rabb, aku belum kuat. Maka kuatkanlah aku.”
