Kenapa Banyak Penjilat disekitar Penguasa

  • Bagikan

Jangan Menjadi Pemuja Kekuasaan: Sebuah Muhasabah tentang Penjilat, Kejujuran, dan Amanah

Serial Muhasabah dari Mihrab Maya

Ada sebuah pemandangan yang sering muncul di sekitar kekuasaan.

Ketika seorang penguasa berbicara, terdengar pujian. Ketika ia mengambil keputusan, selalu ada yang mengatakan keputusan itu tepat. Ketika terjadi kesalahan, segera muncul orang-orang yang mencari alasan untuk membenarkannya. Bahkan ketika rakyat merasakan kesulitan, penderitaan itu terkadang ditutupi dengan berbagai laporan yang seolah-olah semuanya baik-baik saja.

Di tengah keadaan seperti itu, kita patut bertanya kepada diri sendiri:

Mengapa di sekitar kekuasaan selalu mudah ditemukan orang-orang yang gemar memuji, tetapi sulit menemukan orang yang berani berkata jujur?

Apakah mereka tidak mengetahui kebenaran?

Belum tentu.

Sebagian mungkin orang-orang berilmu, berpengalaman, bahkan memahami dengan baik mana yang benar dan mana yang keliru. Namun persoalannya bukan lagi tentang ketidaktahuan.

Persoalannya adalah keberanian.

Mereka mengetahui sesuatu itu salah, tetapi memilih diam. Mereka melihat rakyat mengalami kesulitan, tetapi tidak berani menyampaikan. Mereka menyaksikan kekeliruan, tetapi memilih mencari pembenaran.

Sebab terkadang, manusia lebih takut kehilangan kenikmatan dunia daripada kehilangan keberkahan dari Allah.

Ketika Keridhaan Penguasa Mengalahkan Keridhaan Allah

Kekuasaan memang memiliki daya tarik.

Di sekitarnya ada jabatan, fasilitas, proyek, akses, penghormatan, perlindungan, dan berbagai kesempatan yang mungkin sulit diperoleh oleh orang biasa.

Karena itu, tidak semua orang yang mendekati kekuasaan datang dengan niat yang sama.

Ada yang datang untuk mengabdi.

Ada yang datang untuk memberikan nasihat.

Ada yang datang untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Namun ada pula yang datang karena melihat kekuasaan sebagai jalan menuju keuntungan pribadi.

Di sinilah hati manusia diuji.

Ketika kecintaan kepada dunia semakin kuat, seseorang bisa perlahan kehilangan keberanian untuk mengatakan kebenaran.

Ia tidak lagi bertanya:

“Apakah Allah ridha dengan apa yang aku lakukan?”

Tetapi justru bertanya:

“Apakah penguasa akan senang jika aku mengatakan ini?”

Dari sinilah kehinaan dapat bermula.

Sebab ketika keridhaan manusia lebih dikejar daripada keridhaan Allah, lidah akan mudah menjual pujian dan menyembunyikan kebenaran.

Penjilat Sesungguhnya Bukan Sahabat

Jangan selalu menganggap orang yang paling dekat dengan penguasa adalah orang yang paling setia.

Bisa jadi ia memang selalu tersenyum.

Ia hadir paling cepat ketika dipanggil.

Ia paling bersemangat memberikan tepuk tangan.

Ia paling keras membela.

Namun kedekatan itu belum tentu lahir dari kecintaan.

Bisa jadi yang ia cintai bukan pribadi penguasa, melainkan keuntungan yang berada di tangan penguasa.

Selama kekuasaan masih memberikan manfaat, ia akan terus berada di dekatnya. Tetapi ketika kekuasaan melemah, kepentingannya berubah, atau jabatan berpindah tangan, bukan tidak mungkin orang yang dahulu paling keras memuji justru menjadi orang pertama yang meninggalkan.

Karena itu, penjilat bukanlah sahabat sejati.

Ia adalah pedagang pujian.

Ia menukar kejujuran dengan kedudukan.

Ia menukar harga diri dengan fasilitas.

Ia menggadaikan keberanian dengan rasa aman.

Dan yang paling menyedihkan, ia bisa saja menukar keselamatan akhirat dengan kenikmatan dunia yang hanya sementara.

Penguasa yang Hanya Senang Dipuji Akan Kehilangan Cermin

Namun kita juga harus adil.

Tidak semua kesalahan berada pada orang-orang yang berada di sekitar penguasa.

Kadang-kadang, justru penguasa sendiri yang menciptakan lingkungan yang dipenuhi penjilat.

Ketika kritik dianggap sebagai permusuhan, orang jujur akan menjauh.

Ketika nasihat dianggap sebagai penghinaan, orang-orang baik memilih diam.

Ketika hanya pujian yang dihargai, para pemuji akan berdatangan.

Lama-kelamaan, penguasa tidak lagi mendengar kenyataan.

Ia hanya mendengar gema dari apa yang ingin ia dengar.

Semua laporan tampak baik.

Semua kebijakan dikatakan berhasil.

Semua keadaan disebut aman.

Padahal di luar ruang-ruang kekuasaan, mungkin ada rakyat yang sedang menangis, orang kecil yang merasa tidak mendapatkan keadilan, dan masyarakat yang menanggung akibat dari sebuah kebijakan.

Inilah bahaya terbesar ketika kekuasaan kehilangan orang-orang yang berani berkata benar.

Al-Qur’an memberikan pelajaran melalui kisah Fir’aun. Allah berfirman:

“Maka Fir‘aun memengaruhi kaumnya, lalu mereka patuh kepadanya. Sungguh, mereka adalah kaum yang fasik.”
(QS. Az-Zukhruf: 54)

Kezaliman yang besar sering kali tidak tumbuh sendirian.

Di belakangnya bisa ada orang-orang yang memberikan pembenaran, orang-orang yang memilih diam, atau orang-orang yang takut mengatakan kebenaran.

Pujian Palsu Bisa Membutakan Hati

Nasihat yang jujur mungkin terasa pahit.

Tetapi terkadang sesuatu yang pahit justru menjadi obat.

Sebaliknya, pujian palsu terasa manis, tetapi dapat menjadi racun yang perlahan merusak.

Seorang penjilat akan membuat penguasa merasa selalu benar.

Kesalahan ditutupi.

Kegagalan diperindah.

Penderitaan rakyat dikecilkan.

Kelemahan disebut keberhasilan.

Bahkan sesuatu yang keliru dapat dibungkus sedemikian rupa sehingga terlihat seperti sebuah kebijaksanaan.

Jika keadaan ini berlangsung terus-menerus, seorang pemimpin dapat kehilangan kemampuan untuk melihat dirinya sendiri secara jernih.

Ia tidak lagi mampu membedakan antara penghormatan dan kemunafikan.

Antara kesetiaan dan kepentingan.

Antara nasihat dan ancaman.

Pada akhirnya, seseorang bisa jatuh bukan karena kekurangan kekuasaan, tetapi karena terlalu lama hidup di tengah kebohongan.

Mengapa Orang Jujur Sering Tidak Disukai?

Orang jujur memang tidak selalu menyenangkan.

Ia berani berkata:

“Ini keliru.”

Ia berani mengingatkan:

“Rakyat sedang mengalami kesulitan.”

Ia berani menyampaikan:

“Kebijakan ini perlu diperbaiki.”

Ia tidak selalu bertepuk tangan.

Tidak selalu mengangguk.

Tidak selalu membela.

Tetapi bukan berarti ia membenci pemimpin.

Bisa jadi justru karena ia peduli.

Ia takut kepada Allah.

Ia mencintai kebenaran.

Ia tidak ingin seorang pemimpin semakin jauh terjerumus ke dalam kesalahan.

Namun ketika sebuah lingkungan sudah terbiasa dengan pujian, kejujuran bisa dianggap sebagai ancaman.

Orang yang amanah dicurigai.

Orang yang kritis dijauhkan.

Sementara orang yang pandai menyenangkan hati penguasa justru didekatkan.

Jika keadaan seperti ini terus dibiarkan, sesungguhnya kekuasaan sedang membangun jalan menuju kehancurannya sendiri.

Tidak Semua Penjilat Lahir dari Keserakahan

Ada pula orang-orang yang memilih menjilat karena ketakutan.

Takut kehilangan jabatan.

Takut dipindahkan.

Takut dicopot.

Takut dimusuhi.

Takut kehidupannya dipersulit.

Mereka kemudian memilih diam ketika seharusnya berbicara.

Padahal seorang mukmin harus memahami bahwa jabatan bukanlah segalanya.

Rezeki bukan berada di tangan manusia.

Masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh pejabat.

Kehidupan dan kematian berada dalam ketetapan Allah.

Maka jangan sampai rasa takut kepada manusia mengalahkan rasa takut kepada Allah.

Jangan sampai demi mempertahankan sebuah kursi, seseorang harus kehilangan kehormatan.

Jangan sampai demi sebuah fasilitas, seseorang harus menjual nuraninya.

Sebab setiap jabatan memiliki akhir.

Setiap kekuasaan memiliki batas.

Dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Allah.

Kekuasaan Membutuhkan Cermin, Bukan Pemuja

Seorang pemimpin tidak membutuhkan orang yang setiap hari mengatakan bahwa dirinya selalu benar.

Ia membutuhkan cermin.

Cermin yang berani memperlihatkan noda.

Cermin yang tidak mengubah kenyataan hanya agar terlihat indah.

Cermin yang membantu seseorang memperbaiki diri sebelum orang lain melihat kekurangannya.

Dalam sejarah Islam, kita mengenal sosok Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu yang tidak merasa terganggu ketika mendapatkan nasihat dan koreksi.

Inilah salah satu sifat penting seorang pemimpin yang takut kepada Allah.

Ia tidak mencari manusia yang memuja dirinya.

Ia mencari orang yang dapat membantu menyelamatkan dirinya dari kesalahan.

Sebab jabatan bukan sekadar kehormatan.

Jabatan adalah amanah.

Dan amanah akan dipertanggungjawabkan.

Setiap keputusan akan ditanya.

Setiap ketidakadilan akan diperhitungkan.

Setiap hak yang dirampas akan dimintai pertanggungjawaban.

Bahkan tangisan orang yang terzalimi tidak akan hilang begitu saja di hadapan Allah.

Karena itu, orang yang benar-benar menyayangi seorang pemimpin bukanlah orang yang selalu memujinya.

Orang yang benar-benar menyayangi pemimpin adalah orang yang berani mengingatkannya sebelum ia terlambat.

Di Akhirat, Kedekatan Dunia Tidak Lagi Berarti

Di dunia, penguasa dan orang-orang di sekelilingnya mungkin duduk dalam satu ruangan.

Saling tersenyum.

Saling memuji.

Saling memberikan perlindungan.

Tetapi di hadapan Allah, setiap manusia akan berdiri sendiri.

Tidak ada jabatan yang dapat menyelamatkan.

Tidak ada fasilitas yang dapat dibawa.

Tidak ada kedekatan dengan penguasa yang dapat menggantikan amal.

Tidak ada alasan yang dapat menghapus tanggung jawab.

Allah mengingatkan:

“Teman-teman dekat pada hari itu sebagian menjadi musuh bagi sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf: 67)

Betapa banyak hubungan yang begitu erat di dunia, tetapi berubah menjadi penyesalan di akhirat.

Karena itu, jangan mencari kedekatan yang hanya menguntungkan di dunia.

Carilah kedekatan yang membawa keselamatan di hadapan Allah.

Wahai Para Pemimpin, Jangan Takut kepada Orang yang Menasihati

Jika engkau seorang pemimpin, jangan terlalu takut kepada orang yang mengkritikmu dengan niat baik.

Justru berhati-hatilah kepada orang yang selalu mengatakan bahwa semua keputusanmu sempurna.

Jangan terlalu senang kepada orang yang memuji setiap langkahmu.

Jangan mudah percaya kepada mereka yang selalu mengatakan:

“Semuanya baik-baik saja.”

Bukalah ruang untuk nasihat.

Dengarkan suara rakyat.

Berikan tempat kepada orang-orang yang amanah.

Jangan hukum orang hanya karena ia menyampaikan sesuatu yang tidak ingin engkau dengar.

Sebab boleh jadi satu nasihat yang pahit menyelamatkanmu dari penyesalan yang panjang.

Dan boleh jadi satu pujian palsu justru membuatmu semakin jauh dari kebenaran.

Wahai Orang-Orang yang Berada di Sekitar Kekuasaan

Ketahuilah bahwa kedekatan dengan kekuasaan bukan hanya sebuah kesempatan.

Ia adalah ujian.

Engkau dapat menjadi jalan menuju kebaikan.

Tetapi engkau juga dapat menjadi bagian dari kesalahan.

Engkau dapat menjadi lisan yang menyampaikan kebenaran.

Tetapi engkau juga dapat menjadi orang yang menutupi keburukan.

Maka jangan gadaikan akhirat demi jabatan.

Jangan tukarkan harga diri dengan fasilitas.

Jangan biarkan lidah memuji sesuatu yang sesungguhnya hati mengetahui bahwa itu keliru.

Akan datang suatu masa ketika orang yang engkau puji tidak lagi mampu menolongmu.

Jabatanmu berakhir.

Fasilitasmu ditinggalkan.

Kekuasaan berganti.

Nama mungkin dilupakan.

Namun setiap perkataan yang pernah keluar dari lisanmu tetap tercatat dalam catatan amal.

Sebuah Muhasabah untuk Kita Semua

Tulisan ini sesungguhnya bukan hanya untuk penguasa.

Ia juga untuk kita semua.

Karena siapa pun yang memiliki sedikit kekuasaan akan diuji.

Orang tua memiliki kekuasaan terhadap keluarganya.

Guru memiliki kekuasaan terhadap muridnya.

Atasan memiliki kekuasaan terhadap bawahannya.

Pejabat memiliki kekuasaan terhadap masyarakat.

Dan setiap manusia, dalam kadar tertentu, memiliki amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.

Maka pertanyaannya bukan hanya:

“Apakah aku pernah menjadi penjilat?”

Tetapi:

“Apakah aku pernah memilih diam ketika seharusnya berkata benar?”

“Apakah aku pernah memuji karena berharap sesuatu?”

“Apakah aku pernah membela kesalahan hanya karena orang yang melakukannya memiliki kekuasaan?”

“Apakah aku lebih takut kehilangan kedudukan daripada kehilangan ridha Allah?”

Inilah pertanyaan yang seharusnya membuat hati kita berhenti sejenak.

Sebab bisa jadi kita tidak berada di puncak kekuasaan, tetapi kita sedang diuji oleh kedekatan dengan orang yang berkuasa.

Dan bisa jadi kita bukan seorang penjilat, tetapi pernah menjadi orang yang memilih diam karena takut kehilangan keuntungan.

Penutup: Selamatkan Kekuasaan dengan Kejujuran

Banyaknya penjilat di sekitar kekuasaan bukan hanya tanda bahwa banyak orang sedang mengejar keuntungan.

Ia juga bisa menjadi tanda bahwa kekuasaan mulai kehilangan kenyamanan dalam mendengar kebenaran.

Penjilat tumbuh ketika pujian lebih dihargai daripada kejujuran.

Mereka berkembang ketika kritik dianggap ancaman.

Mereka menjadi kuat ketika nasihat dibungkam dan kepentingan dunia mengalahkan rasa takut kepada Allah.

Karena itu, mari kita selamatkan kekuasaan dengan kejujuran.

Selamatkan pemimpin dengan nasihat.

Selamatkan masyarakat dengan keberanian menyampaikan kebenaran.

Dan selamatkan diri kita sendiri dengan tidak menjual nurani demi keuntungan sesaat.

Jangan menjadi orang yang berdiri paling dekat dengan penguasa di dunia, tetapi justru menjadi orang yang paling jauh dari kebenaran.

Sebab pada akhirnya, bukan siapa yang paling dekat dengan penguasa yang akan menyelamatkan kita.

Bukan jabatan.

Bukan fasilitas.

Bukan pujian.

Bukan kekuasaan.

Yang akan menyelamatkan kita adalah rahmat Allah, iman, amal saleh, dan keberanian untuk tetap berada di jalan kebenaran.

Semoga Allah memberikan kepada para pemimpin hati yang lembut untuk menerima nasihat, telinga yang mau mendengar keluhan rakyat, dan keberanian untuk memperbaiki kesalahan.

Dan semoga Allah memberikan kepada orang-orang yang berada di sekitar kekuasaan keberanian untuk berkata benar, keteguhan untuk menjaga amanah, serta hati yang tidak mudah tergoda oleh jabatan dan kenikmatan dunia.

Sebab kekuasaan hanyalah sementara.

Jabatan akan berakhir.

Pujian akan berhenti.

Tetapi hisab di hadapan Allah adalah sebuah kepastian.

Wallahu a’lam bish-shawab.

oleh ustdazA Latif Khan, S.Ag

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *