Bandung (AKunberita.id) Pengamat politik Rocky Gerung melontarkan kritik keras terhadap arah kebijakan negara dengan membandingkan harga buku tulis yang diinginkan seorang anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan besarnya sumbangan Indonesia ke Board of Peace yang mencapai Rp16,7 triliun.
Kritik tersebut disampaikan Rocky dalam acara Inaugurasi 2025 yang digelar Universitas Sangga Buana YPKP, Bandung, Jawa Barat, Kamis (29/1/2026).
Baca juga : Siswa SD Mengakhiri Hidup, Diduga karena Kondisi Ekonomi
Menurut Rocky, tragedi meninggalnya seorang anak di NTT yang diduga dipicu persoalan sederhana namun mendasar itu merupakan tamparan keras bagi negara. Peristiwa tersebut, kata dia, justru membongkar ironi besar di tengah gencarnya narasi keberhasilan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang kerap dipromosikan pemerintah ke forum-forum internasional.
“Di tengah isu besar seperti pertumbuhan ekonomi, IHSG, dan berbagai jargon pembangunan, publik justru disadarkan oleh peristiwa kecil yang sangat tragis ini,” ujar Rocky, dikutip Selasa (3/2/2026).
Rocky menilai ada yang keliru dalam arah kebijakan negara apabila hak dasar anak, seperti buku tulis, masih belum dapat dijamin secara merata. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari indikator makroekonomi, tetapi juga dari kemampuan negara melindungi hak-hak paling mendasar warganya.
“Solidaritas kemanusiaan seperti tidak lagi berkemah dalam upaya kita menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera,” tegasnya.
Ia menambahkan, berbagai analisis makroekonomi, antropologi, hingga psikologi memang bisa dilakukan setelah peristiwa terjadi. Namun, menurut Rocky, pendekatan tersebut tidak cukup jika tidak disertai kebijakan nyata untuk mencegah tragedi serupa terulang di masa depan.
Baca juga : MUI Kritik Langkah Presiden Prabowo Bergabung Dewan Perdamaian
“Itu semua analisis tentang sesuatu yang sudah terjadi, bukan analisis untuk menghalangi itu terjadi,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rocky menekankan bahwa buku tulis bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar setiap anak yang seharusnya dijamin oleh negara.
“Buku tulis adalah hak dia. Itu simbol niat untuk menjadi manusia terdidik, pemimpin masa depan bangsa,” pungkas Rocky.












