MEDAN (AKunberita.id) Komentar Zulkifli Hasan yang menyebut IQ rata-rata warga Indonesia lebih rendah dari Malaysia dan Thailand telah memicu kontroversi dan debat publik. Meskipun dia mengaitkan hal itu dengan urgensi memperbaiki gizi dan SDM lewat program MBG, banyak pihak meragukan dasar klaimnya, baik dari segi data maupun etika. Pernyataan ini jadi pengingat bahwa klaim mengenai “kecerdasan” nasional harus dibarengi dengan data transparan dan penghormatan terhadap identitas bangsa.
Kenapa Ini Jadi Isu Sensitif
Setelah “dramanya” memangkul beras ditengah-tengah korban banjir Sumatra, Kini publik mengingat-ingat kembali komentar tak sedap zulhas yang menuai kontroversi.
Lalu, mengapa ini menjadi isu sensitif ? Setidaknya ada tigaga alasannya.
- Sensitivitas nasional & identitas — Mengatakan IQ warga Indonesia “lebih rendah” dari negara tetangga bisa dianggap merendahkan identitas nasional, menimbulkan stigma.
- Data & metode ilmiah. Klaim seperti ini seharusnya dibarengi riset akademik secara terbuka, bukan sekadar “menyebut data”. Tanpa transparansi, klaim bisa berkembang jadi opini atau persepsi buruk.
- Potensi dampak kebijakan. Bila dijadikan dasar kebijakan seperti prioritas gizi, pendidikan, atau program SDM — tanpa pertimbangan ilmiah dan sensitivitas sosial, bisa memicu ketidakadilan atau resistensi publik.
Pernyataan ketua umum PAN itu memicu reaksi keras dari warganet dan publik di media sosial. Banyak yang menyebut bahwa menyamakan IQ sebuah bangsa sebagai argumen kebijakan, apalagi dengan angkat angka seperti itu sangat problematis.
Seorang konten kreator disebut secara vokal mengecam pernyataan Zulkifli, menyinggung bahwa “makan bergizi saja tidak menjamin kecerdasan belajar tetap dibutuhkan.”
Kritik berfokus pada dua hal utama: pertama, apakah klaim angka IQ tersebut memiliki dasar ilmiah; dan kedua, bahwa pola pikir seperti itu bisa dianggap merendahkan warga Indonesia dan menyulut sentimen negatif.
Zulkifli Hasan menyatakan bahwa menurut data yang ia terima, rata-rata IQ warga Indonesia hanya “sekitar 72–78”.
Dia membandingkan angka itu dengan IQ masyarakat di negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, bahkan Tiongkok dan Korea yang — menurut klaimnya — berada “di atas 120”.
Ia menggunakan pernyataan itu sebagai bagian dari argumennya bahwa Indonesia harus memperkuat program pangan dan gizi, misalnya lewat program Makan Bergizi Gratis (MBG), demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia.












