Investigasi Al Jazeera: Ratusan Warga Palestina Diduga Terpapar Senjata Suhu Tinggi di Gaza

  • Bagikan
Gaza Palestina
Gaza Palestina

GAZA — Sebuah investigasi Al Jazeera yang dipublikasikan pada Senin mengungkap dugaan penggunaan senjata bersuhu sangat tinggi dalam serangan Israel di Jalur Gaza. Senjata tersebut disebut mampu menghasilkan panas ekstrem yang menyebabkan tubuh korban terbakar hingga sulit dikenali dan menyisakan sedikit jejak untuk proses identifikasi maupun pemakaman.

Investigasi tersebut menyebut militer Israel menggunakan jenis senjata yang digambarkan sebagai bom vakum atau aerosol. Senjata termobarik diketahui bekerja dengan menyebarkan awan bahan bakar yang kemudian terbakar dan menghasilkan gelombang panas serta tekanan yang sangat kuat.

Menurut hasil investigasi, dari lebih dari 72.000 warga Palestina yang dilaporkan tewas sejak Oktober 2023, sekitar 2.845 orang diduga menjadi korban senjata termal hingga tubuh mereka tidak lagi dapat diidentifikasi secara utuh.

Temuan itu disebut telah diperkuat oleh tim Pertahanan Sipil Gaza. Seorang juru bicara organisasi tersebut mengatakan data diperoleh melalui penyelidikan di lapangan serta pencarian jejak biologis, termasuk pemeriksaan terhadap dinding bangunan yang menjadi lokasi serangan.


Baca : Netanyahu di Demo Warga AS, Sebut “Pembunuh Bayi”

Investigasi tersebut menjelaskan bahwa komposisi kimia tertentu dalam amunisi dapat menghasilkan suhu yang sangat tinggi ketika meledak. Dalam kondisi tertentu, panas ekstrem tersebut dapat menyebabkan jaringan tubuh mengalami kerusakan berat dalam waktu singkat.

Senjata termobarik bekerja dengan cara menyebarkan bahan bakar ke udara sebelum dinyalakan. Proses tersebut menghasilkan bola api dengan suhu tinggi sekaligus menciptakan efek tekanan dan vakum yang kuat.

Sejumlah pakar militer yang dikutip dalam investigasi mengatakan logam seperti aluminium, magnesium, dan titanium dapat ditambahkan ke dalam campuran bahan peledak untuk meningkatkan temperatur yang dihasilkan saat ledakan.

Investigasi itu juga menyoroti penggunaan TNT yang dicampur bubuk aluminium dalam sejumlah bom buatan Amerika Serikat, termasuk bom jenis MK 84. Menurut laporan tersebut, kombinasi bahan itu dapat menghasilkan panas yang sangat tinggi ketika amunisi meledak.

Temuan tersebut muncul ketika Israel terus menghadapi tuduhan pelanggaran hukum humaniter internasional dalam perang di Gaza. Tuduhan itu antara lain berkaitan dengan pengungsian paksa warga, pembatasan akses makanan dan bantuan darurat, serta serangan terhadap fasilitas sipil, termasuk rumah sakit.

Para pakar hukum yang diwawancarai dalam investigasi menilai dugaan penggunaan amunisi termobarik atau senjata dengan efek panas ekstrem di wilayah padat penduduk dapat menimbulkan persoalan hukum internasional, khususnya apabila penggunaannya tidak mampu membedakan antara sasaran militer dan warga sipil.

Persoalan tersebut juga dapat melibatkan negara pemasok senjata apabila amunisi yang digunakan dalam serangan terbukti berasal dari negara lain. Investigasi menyebut sejumlah senjata produksi Amerika Serikat, antara lain MK 84, GBU-39, dan BLU-109, berkaitan dengan sejumlah insiden yang dilaporkan menyebabkan korban mengalami pembakaran parah.

Dalam hukum humaniter internasional, prinsip pembedaan mengharuskan pihak yang bertikai membedakan sasaran militer dari penduduk dan objek sipil. Penggunaan senjata atau metode perang yang tidak memenuhi prinsip tersebut dapat menimbulkan persoalan terkait dugaan pelanggaran hukum perang.

Laporan itu juga menyinggung persoalan pertanggungjawaban hukum. Mahkamah Pidana Internasional (ICC) sebelumnya telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Di tengah proses tersebut, kekerasan di Gaza masih dilaporkan berlangsung. Sedikitnya 591 warga Palestina disebut tewas sejak kesepakatan gencatan senjata pada Oktober, sementara pasukan Israel dilaporkan tetap melakukan pembongkaran sejumlah bangunan di Gaza setelah gencatan senjata.

Sejak perang dimulai, pejabat Palestina dan sejumlah organisasi hak asasi manusia juga menuduh Israel menghambat keluarga korban untuk memakamkan anggota keluarga mereka secara layak. Tuduhan tersebut mencakup dugaan penahanan jenazah, serangan terhadap pelayat, hingga kondisi korban yang mengalami kerusakan berat sehingga sulit dikenali.

Catatan: Angka korban, jenis senjata, serta dugaan penggunaan senjata termobarik dalam tulisan ini merupakan temuan dan klaim yang dikutip dari investigasi Al Jazeera serta sumber-sumber yang disebut dalam laporan tersebut. Klaim tersebut sebaiknya dibedakan dari fakta yang telah dipastikan secara independen.




Sumber : newarab.com

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *