SERIAL DARI MIHRAB MAYA
KETIKA HATI PERLAHAN MENJAUH DARI ALLAH
Oleh: Ust Abdul Latif Khan
Ada masa ketika tubuh kita masih terlihat baik-baik saja.
Kita masih bekerja.
Masih tersenyum.
Masih berbicara tentang agama.
Masih menghadiri majelis.
Bahkan mungkin masih menasihati orang lain.
Namun jauh di kedalaman jiwa, ada sesuatu yang perlahan menghilang:
Kedekatan dengan Allah.
Salat masih dilakukan, tetapi tidak lagi dirindukan.
Al-Qur’an masih dibaca, tetapi tidak lagi menggetarkan.
Doa masih diucapkan, tetapi hati tidak benar-benar merasa sedang berbicara kepada-Nya.
Kita masih berada di jalan yang sama, tetapi hati kita tidak lagi berjalan menuju Allah.
Jauh Itu Tidak Selalu Berarti Meninggalkan Ibadah
Tidak semua orang yang jauh dari Allah meninggalkan salat.
Ada yang tetap salat, tetapi pikirannya sibuk memikirkan dunia.
Ada yang tetap membaca Al-Qur’an, tetapi hatinya lebih tersentuh oleh pujian manusia.
Ada yang tetap berdakwah, tetapi mulai gelisah ketika namanya tidak disebut.
Ada yang tetap melakukan kebaikan, tetapi kecewa ketika manusia tidak menghargainya.
Jarak dengan Allah terkadang tidak terlihat oleh mata.
Ia tumbuh dalam diam.
Dimulai dari dosa yang dianggap kecil.
Kelalaian yang terus dibiarkan.
Kesombongan yang disembunyikan.
Hasad yang dipelihara.
Pujian manusia yang mulai dinikmati.
Dan nasihat yang hanya diarahkan kepada orang lain, tidak lagi kepada diri sendiri.
Hati pun perlahan mengeras.
Bukan karena tidak mengetahui kebenaran, tetapi karena terlalu sering mengetahui tanpa mengamalkan.
Ketika Dunia Lebih Kita Takuti daripada Allah
Perhatikanlah kegelisahan kita.
Kita takut kehilangan pekerjaan.
Takut kehilangan jabatan.
Takut usaha menurun.
Takut tidak dihormati.
Takut ditinggalkan manusia.
Namun apakah kita masih takut kehilangan cinta Allah?
Kita bersedih ketika manusia menjauh, tetapi tidak bersedih ketika hati kita menjauh dari-Nya.
Kita gelisah ketika pesan tidak dibalas, tetapi tidak gelisah ketika doa-doa kita terasa hambar.
Kita kecewa ketika nama tidak disebut manusia, tetapi tidak pernah bertanya apakah nama kita masih disebut dengan kebaikan di hadapan para malaikat.
Betapa mudahnya dunia memenuhi kepala kita, lalu perlahan mengusir akhirat dari hati kita.
Padahal Allah telah mengingatkan:
«“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun?”»
(QS. Al-Hadid: 16)
Ayat ini bukan hanya teguran bagi orang yang tidak beriman.
Ia adalah panggilan bagi orang beriman yang hatinya mulai terlambat pulang.
Allah Tidak Pernah Menjauh
Ketika hati terasa jauh, jangan pernah mengira bahwa Allah yang meninggalkan kita.
Kitalah yang terlalu sibuk berjalan ke arah yang lain.
Allah masih membuka pintu-Nya.
Allah masih menunggu doa kita.
Allah masih menutupi aib kita.
Allah masih memberi kesehatan.
Allah masih memberi kesempatan untuk sujud.
Allah masih membangunkan kita setiap pagi.
Bahkan ketika kita berbuat dosa, Allah tidak langsung mencabut seluruh nikmat-Nya.
Dia masih memberikan waktu agar kita menyadari kesalahan dan kembali.
Betapa lembutnya Allah kepada hamba-Nya.
Kita menghadap kepada dunia berkali-kali, tetapi ketika kembali kepada-Nya dengan air mata yang tulus, Dia tidak berkata, “Mengapa baru sekarang?”
Allah justru menyambut taubat hamba-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba daripada seseorang yang menemukan kembali kendaraannya yang hilang di tengah padang pasir.
(HR. Muslim)
Kita mungkin telah jauh.
Tetapi selama ruh belum sampai di tenggorokan, jalan pulang belum tertutup.
Pulanglah sebelum Hati Mati
Jangan menunggu musibah untuk kembali mengingat Allah.
Jangan menunggu tubuh terbaring sakit untuk merindukan sujud.
Jangan menunggu orang yang kita cintai pergi untuk memahami bahwa dunia tidak pernah benar-benar dapat kita miliki.
Jangan menunggu kematian berdiri di depan pintu, baru kita menyadari bahwa selama ini kita terlalu sibuk mengejar sesuatu yang akan ditinggalkan.
Pulanglah sekarang.
Pulanglah dengan salat yang lebih jujur.
Dengan istigfar yang keluar dari hati.
Dengan Al-Qur’an yang dibaca perlahan.
Dengan sedekah yang tidak perlu diketahui manusia.
Dengan doa-doa di kesunyian malam.
Dengan memaafkan orang yang menyakiti.
Dengan meninggalkan dosa yang selama ini dirahasiakan.
Tidak perlu menunggu menjadi baik untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah kepada-Nya, maka Dia akan menuntunmu menjadi lebih baik.
Jangan Malu Membawa Dosa kepada Allah
Mungkin ada yang berkata dalam hatinya:
“Aku terlalu kotor untuk kembali.”
Tidak.
Tidak ada dosa yang lebih besar daripada ampunan Allah.
Yang berbahaya bukan banyaknya dosa, tetapi ketika seorang hamba tidak lagi merasa membutuhkan ampunan-Nya.
Datanglah kepada Allah dengan segala kehancuranmu.
Bawalah luka itu.
Bawalah kegagalan itu.
Bawalah dosa yang membuatmu malu itu.
Bawalah hati yang telah lama kosong itu.
Katakan:
“Ya Allah, aku telah jauh. Aku telah menzalimi diriku sendiri. Aku tidak memiliki tempat kembali selain kepada-Mu.”
Allah berfirman:
«“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”»
(QS. Az-Zumar: 53)
Tidak ada malam yang terlalu gelap bagi terbitnya fajar.
Tidak ada hati yang terlalu rusak untuk diperbaiki Allah.
Tidak ada langkah yang terlalu jauh selama seseorang masih mau berbalik arah.
Kembali Menjadi Hamba
Kita tidak harus menjadi terkenal untuk dicintai Allah.
Kita tidak harus memiliki banyak pengikut agar bernilai di sisi-Nya.
Kita tidak harus dipuji manusia agar amal diterima.
Cukuplah menjadi hamba.
Hamba yang menangis ketika berdosa.
Hamba yang bersyukur ketika diberi.
Hamba yang bersabar ketika diuji.
Hamba yang kembali ketika tersesat.
Hamba yang tetap taat meskipun tidak ada seorang pun yang melihat.
Sebab pada akhirnya, semua gelar akan dilepaskan.
Jabatan ditinggalkan.
Harta diwariskan.
Popularitas dilupakan.
Tubuh dibaringkan sendirian.
Yang pulang menghadap Allah hanyalah seorang hamba bersama amalnya.
Renungan dari Mihrab Maya
Saudaraku,
Bila akhir-akhir ini hatimu terasa keras, jangan menyerah.
Bila salatmu terasa hambar, jangan tinggalkan.
Bila doamu terasa belum dijawab, jangan berhenti mengetuk pintu-Nya.
Bila dirimu telah berkali-kali jatuh dalam dosa, bangkit dan bertaubatlah sekali lagi.
Mungkin kita tidak mampu kembali kepada Allah dengan langkah yang sempurna.
Tetapi pulanglah meskipun dengan tertatih.
Pulanglah meskipun sambil menangis.
Pulanglah meskipun hanya mampu berkata:
“Ya Allah, aku ingin kembali, tetapi aku lemah. Maka tuntunlah aku.”
Sebab yang Allah lihat bukan hanya sejauh mana kita pernah tersesat.
Allah melihat kejujuran hati ketika kita memutuskan untuk pulang.
Dan barangkali, satu tetes air mata taubat yang jatuh dalam kesunyian lebih berharga di sisi Allah daripada seribu kata kesalehan yang hanya diucapkan di hadapan manusia.
Ya Allah, jangan biarkan hati kami menjauh dari-Mu sementara tubuh kami masih terlihat taat.
Hidupkan hati kami dengan zikir.
Lembutkan jiwa kami dengan Al-Qur’an.
Bersihkan dosa kami dengan taubat.
Jaga langkah kami dalam ketaatan.
Dan ketika tiba saatnya kami pulang dari dunia ini, pulangkanlah kami dalam keadaan mengenal-Mu, mencintai-Mu, dan Engkau ridhai.
Amin ya Rabbal ‘alamin.












