JAKARTA (Akunberita.id): Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, angkat bicara terkait Presiden ke-7 RI Joko Widodo yang melaporkan dirinya dan kawan-kawan ke Polada Metro Jaya atas tudingan ijazah palsu, pada Rabu (30/4/2025). Roy Suryo menilai, sikap Jokowi yang langsung melaporkan lima nama tersebut tidak elegan dan memalukan.
“Benar, memang Jokowi sudah lapor sendiri ke Polda Metro, tidak lagi menggunakan tangan-tangan kotor relawan dan organisasi enggak jelas seperti kemarin, tetapi sekali lagi mempidanakan Ibu-ibu (inisial T dan K) ini adalah sebuah sikap yang tidak elegan alias memalukan,” kata Roy, saat dihubungi Kompas.com, Rabu.
Roy mengatakan, sangat ironi bila Jokowi meragukan keabsahan dari hasil analisis pemeriksaan ijazahnya yang dilakukan oleh peneliti.
“Tentu hal tersebut sangat mengotori independensi peneliti dan ilmu pengetahuan yang seharusnya malah diapresiasi, bukan dikriminalisasi,” ujar dia. Meski demikian, Roy Suryo mengatakan, siap menjalani proses hukum dan mengungkap kasus skripsi dan ijazah palsu Jokowi.
“Peradilan jangan dibuat sesat dengan hanya ujung-ujungnya memaksakan Pasal 310, 311, dan Pasal 160 soal Penghasutan,” ucap dia. Sebelumnya, Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), secara resmi melaporkan tuduhan mengenai ijazah palsu ke Polda Metro Jaya, Rabu (30/4/2025).
Kuasa Hukum Jokowi, Yakub Hasibuan, menjelaskan, saat ini pihak terlapor masih dalam tahap penyelidikan. Baca juga: Pengacara Nilai Tuduhan Ijazah Jokowi Palsu Sangat Kejam Ia juga mengungkapkan, timnya telah menyerahkan video yang menunjukkan keterlibatan beberapa individu dalam kasus ini.
“Kami sampaikan peristiwanya ada 24 obyek (video) yang Pak Jokowi sudah melaporkan. Itu juga diduga dilakukan oleh beberapa pihak. Mungkin inisialnya kalau boleh saya sampaikan ada RS, ES, RS, T, dan K,” ungkap Yakub di Polda Metro Jaya, Rabu.
Kata Josua, skripsi Jokowi dibuat menggunakan jasa ketik di percetakan Perdana.
“Skripsi milik Joko Widodo dan banyak alumni fakultas kehutanan di tahun 1980-an menggunakan jasa pengetikan/percetakan/penjilidan buku skripsi bernama “PERDANA”, ditunjukkan dari pembatas buku skripsi yang masih digunakan pada banyak buku skripsi terbitan tahun 80-an khususnya Fakultas Kehutanan. Buku Skripsi yang dijilidkan di “PERDANA”, menggunakan font yang sama pada halaman depan/judul hingga halaman pengesahan. Sedang isi skripsi semua menggunakan mesin tik,” katanya.
Klaim Roy Suryo juga sama dengan dosen Universitas Mataram Rismon Hasiholan Sianipar. Menurut Rismon, font Times New Roman belum ada tahun 1980-1990.
Melansir web UGM, Dekan Fakultas Kehutanan UGM, Sigit Sunarta, menyesalkan adanya informasi yang menyesatkan yang disampaikan Rismon.
Sigit mengatakan soal font skripsi Jokowi, di tahun itu sudah jaman mahasiswa menggunakan font time new roman atau huruf yang hampir mirip dengannya, terutama untuk mencetak sampul dan lembar pengesahan di tempat percetakan.
Bahkan di sekitaran kampus UGM itu sudah ada percetakan seperti Prima dan Sanur (sudah tutup-red) yang menyediakan jasa cetak sampul skripsi.
“Fakta adanya mesin percetakan di sanur dan prima juga seharusnya diketahui yang bersangkutan karena yang bersangkutan juga kuliah di UGM,” katanya dikutip dari web UGM.ac.id.
Guru Besar Hukum Pidana UGM, Marcus Priyo Gunarto mengatakan mestinya Rismon membandingkan milik Jokowi dengan lulusan lain.
“Apakah kemudian yang memiliki kemiripan, lalu dianggap palsu semua? Itu kesimpulan bukan seorang akademisi. Karena skripsi maupun ijazah banyak ditemukan di UGM dengan menggunakan huruf time new roman atau huruf yang hampir mirip dengannya,” katanya.
Ahli Digital Forensik Josua M Sinambela mematahkan argumen Roy Suryo Cs terkait skripsi Jokowi palsu. Sebagai ahli, Josua menjabarkan temuan validnya soal keaslian skripsi Jokowi.
Sebab Josua sendiri sudah melihat dan membandingkan langsung skripsi Jokowi dengan milik rekan-rekannya.
Hal pertama yang dipatahkan Josua dari argumen Roy Suryo adalah perihal font di skripsi Jokowi.
Jika kata Roy Suryo di tahun Jokowi lulus yakni 1985 tidak mungkin sudah ada font Times New Roman, Josua justru menguak fakta lain.
Josua justru membeberkan bukti bahwa font Times New Roman nyatanya sudah dipakai di tahun 1985 dan digunakan oleh rekan sejawat Jokowi di skripsi mereka.
“Font “Times Roman” atau “Times New Roman” sudah ada sejak tahun 1930-an. Font tersebut sudah umum digunakan pada tahun 1980-an, termasuk oleh jasa percetakan-percetakan di sekitar Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebagai referensi hampir semua buku terbitan 1985 disini https://repositori.kemdikbud.go.id/view/year/1985.html menggunakan “Times New Roman”,” tulis Josua M Sinambela, dilansir TribunnewsBogor.com pada Selasa (29/4/2025).
“Di perpustakaan Fakultas Kehutanan UGM, skripsi milik Joko Widodo beserta skripsi teman-teman satu angkatannya masih tersimpan dengan rapi. Skripsi milik Joko Widodo dan banyak alumni fakultas kehutanan di tahun 1980-an menggunakan jasa pengetikan/percetakan/penjilidan buku skripsi bernama “PERDANA”, ditunjukkan dari pembatas buku skripsi yang masih digunakan pada banyak buku skripsi terbitan tahun 80-an khususnya Fakultas Kehutanan. Buku Skripsi yang dijilidkan di “PERDANA”, menggunakan font yang sama pada halaman depan/judul hingga halaman pengesahan. Sedang isi skripsi semua menggunakan mesin tik,” sambungnya.
Hal kedua yang diluruskan Josua terkait skripsi Jokowi adalah perihal typo alias kesalahan tulis nama dosen.
Diungkap Josua, typo dalam skripsi lumrah terjadi dan hal itu juga dilakukan rekan-rekan Jokowi di skripsinya.
“Kesalahan penulisan nama dosen pembimbing merupakan hal yang lumrah, bahkan dalam satu angkatan dan di fakultas lain pun ditemukan banyak kasus serupa. Penulisan nama Dosen dan Dekan dengan Soemitro / Sumitro dan Soenardi / Sunardi juga terdapat pada dokumen skripsi mahasiswa lainnya. Bahkan nama dosen/dekan tidak ditulis lengkap juga ada yang mendapatkan tanda tangan,” kata Josua.
“Typo atau kesalahan ketik pada naskah akademik merupakan hal yang biasa terjadi pada masa itu, umumnya kesalahan dari jasa pengetikan/penjilidan/percetakan. Penulisan kata “Tesis” pada buku skripsi juga ditemukan pada skripsi lain,” sambungnya.
Hal ketiga yang paling disorot Josua guna membuktikan keaslian skripsi Jokowi adalah soal pembatas buku di skripsi Jokowi.
Ternyata pada skripsi mahasiswa UGM di tahun 1980-an, pasti tersemat pembatas buku berwarna kuning yang menandakan mereka mencetak skripsi di tempat yang sama.
Josua pun merekam video yang memperlihatkan pembatas buku warna kuning di skripsi Jokowi dan di skripsi milik rekannya bernama Sigit.
Dalam penjelasan terakhirnya, Josua pun membeberkan fakta mengejutkan soal klaim rekan Roy Suryo yakni Rismon Hasiholan Sianipar yang mengaku melihat dan memfoto sendiri skripsi Jokowi.
Diakui Josua, dialah yang memberikan foto dan video rekaman skripsi Jokowi ke Rismon (RHS).
“RHS ternyata menggunakan dokumentasi Video/Foto milik saya yang pernah saya kirimkan ke dia, dengan menampilkan beberapa skripsi saja hanya untuk pembenaran asumsi asumsi liarnya dan diaku-aku miliknya.
Saya bisa pastikan dia tidak pernah melihat skripsi jokowi dan teman teman seangkatan sebelum tanggal 15 April di UGM. Semua foto, video dokumentasi yang saya lakukan masih dilengkapi metadatanya, dan tersimpan di HP Pribadi dan Memory Camera Canon saya,” Ujar Josua.(*)












